Air Panas Gunung Pancar Sentul, Pemandian Asyik Dekat Jakarta

•
•70

Mobil Badak yang memuat enam orang penumpang melaju kencang di Tol Jagorawi (tidak sekencang mobilnya Dul kok). Tujuannya adalah Pemandian Air Panas Gunung Pancar (Pantjar) di daerah Sentul. Saya dan teman-teman bertolak dari kampus UI Depok sekitar jam 1 siang. Ada lima orang yang ikut yakni saya, Oci, Hadiyan, Heksa, Kurniadi, Bazooka.

Yang tergambar di benak saya ketika mendengar daerah Sentul adalah perumahan elit dengan bangunan megah dan luas, sekolah elit dengan biaya dollar. Saya tidak menyangka di dekat daerah elit itu ada sebuah pemandian air panas di tengah-tengah hutan pinus.

Dari pintu tol Sentul (dekat Sirkuit Sentul) kami terus melaju mengikuti jalan yang ada hingga tiba di satu pertigaan dan mendapati satu papan yang bertuliskan “Pemandian Air Panas Gunung Pancar, 15 KM”.
Wisata Air Panas Gunung Pancar
Tetapi yang lebih menarik perhatian kami adalah papan yang terletak di atasnya bertuliskan “Paket Istimewa Ayam Bakar Komplit, Rp 15.000”. Karena bertepatan dengan jam makan siang, kami memutuskan untuk membeli makanan di RM Sate Kiloan H.Abdullah, warung yang memasang papan Ayam Bakar Komplit tadi.

Warung ini menyediakan beberapa menu seperti sate ayam & kambing, nasi + ayam bakar. Rasanya enak dan harganya ramah di kantong mahasiswa. 😉
Rumah Makan Sate Kiloan Gunung Pancar
Selesai mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan ke lokas pemandia. Tak lama berselang, kami memasuki kawasan hutan pinus. Kami takjub ada tempat seperti ini ternyata di dekat Jakarta. Sejuknya udara yang masuk lewat jendela mobil membelai-belai kulit kami. Tercium bau tanah dan pohon pinus yang pekat. Segar sekali.

Di gerbang pertama, kami diberhentikan oleh petugas Perhutani dan mengatakan bahwa ada biaya masuk sebesar Rp 2000/orang untuk wisatawan domestik, Rp 5000/orang untuk wisatawan asing ditambah motor / mobil sebesar Rp 1000.

Lewat dari gerbang pertama, kami berjalan dan tak lama di kejauhan terlihat beberapa mobil yang sedang parkir. Oh, kita sudah sampai.

Seorang Bapak tua yang ompong dan berjalan dengan satu tongkat menyambut kami dengan senyum ramah lalu membantu si Badak yang kesusahan parkir gara-gara badannya besar. Walau makan waktu yang cukup lama, si Badak akhirnya bisa parkir dengan posisi yang benar. Lahan parkir di Gunung Pancar memang kecil sehingga supir harus pintar.

Bapak Bertongkat Gunung Pancar
Bapak Tua yang ketika ditanya namanya malah senyum aja tapi enggak jawab. 😀

Ongkos masuk ke Pemandian Air Panas Gunung Pancar ini adalah Rp 10.000/orang. Mobil Rp 4.000 dan sepeda motor Rp 2.000.

Parkir Mobil Gunung Pancar
Lahan parkir Gunung Pancar cuma segini nih.

Begitu tiba, saya melihat sekeliling dan mendapati banyak warung yang menjual celana pendek, buah-buahan, talas khas Bogor dan banyak lagi yang bisa dijadikan oleh-oleh. Ada juga warung kopi yang bermodalkan satu terpal tipis, satu kayu panjang untuk menggantung minuman sachet dan meja tempat meletakkan termos air panas.

Walaupun tidak ada kursi untuk pengunjung, rame juga tempatnya. Ternyata pengunjungnya cuma beli kopi / teh terus cari pohon deh buat mojok dengan pacar :p

Kios Kopi Pojok Gunung Pancar
Kios Kopi Pojok. Tuh, motornya banyak tapi orangnya enggak ada. Kemana? :p

Karena sudah tidak sabar, saya dan teman-teman langsung menuju tempat pemandian dan berganti baju. Kami menuruni tangga-tangga yang retak dan berjumpa dengan beberapa orang yang sudah selesai berendam. Cukup ramai ternyata.
Tangga Air Panas Gunung Pancar
Yang membuat saya prihatin, tempat ini kurang dikelola dengan baik. Saya mendapati bilik-bilik pemandian yang miring. Saya bingung apakah itu efek gempa bumi (kapan gempanya?) atau memang style-nya begitu. Entah. Tapi saya jadi enggan untuk masuk. Takut rubuh tiba-tiba euy.

Warung Miring Gunung Pancar
Apakah ini efek gempa?

Di komplek pemandian ini tersedia kolam umum atau kamar pemandian. Terserah bebas. Kalau tidak risih berendam dengan banyak orang ya masuk ke kolam umum. Kalau mau lebih privat boleh bayar lagi Rp 25.000/jam atau Rp 100.000/keluarga/jam.

Setelah berganti baju, perempuan dan laki-laki berpisah. Yang perempuan ke kolam perempuan, yang laki-laki ke kolam laki (ya iyalah). Di satu papan yang juga hampir jatuh, saya melihat keterangan kadar mineral di Gn Pancar ini 100.8 dan kalsium 70.3. Oh ternyata ini bukan kolam air panas belerang. Pantas ketika saya cium airnya kok enggak bau.

Kebanyakan orang datang ke pemandian ini untuk berobat. Mulai dari rematik, encok, penyakit kulit dan lain-lain. Jadi cocok sekali kalau berlibur ke sini dengan keluarga, bawa nenek atau kakek.
Pemberitahuan Air Panas Pancar
Ternyata dipisah itu enggak asyik yah. Malah garing. Kami lalu diberitahu seorang pengurus kolam kalau ada kolam pemandian kecil yang boleh campur lelaki dan perempuan (tetap pakai baju) di bagian atas kolam biasa. Tidak ada biaya tambahan pula. Kami pun ambil langkah seribu menuju kolam yang dimaksud dan langsung mencelupkan kaki.

AAAAAAAHHHHH panas banget!!” teriakku spontan.

Ternyata kolam ini memang kolam yang paling panas dibandingkan dua kolam umum di bawah. Syukur enggak langsung terjun satu badan.

Kami akhirnya duduk di tepi kolam dan menyiram-nyiramkan air mineral ke badan sambil luluran (yang cowok juga ikut luluran).

Selain panas sekali, kolam ini juga dalamnya sebatas dada orang dewasa. Hanya Hadiyan dan Pak Tarno (Kurniadi) yang akhirnya berani mencelupkan diri (hingga kepala) ke dalam kolam ini. Yang lainnya enggak berani, termasuk saya.

Kolam Air Panas Gn Pancar
Kolam mineral paling panas.

Di papan tadi, dianjurkan pula untuk berendam minimal 20 menit dan maksimal 30 menit. Ketika tadi kami berada di kolam umum, ada seorang nenek yang keluar dari kolam, terhuyung-huyung dan ujung-ujungnya muntah. Mukanya merah padam seperti lagi marah padahal sebenarnya beliau kepanasan akibat terlalu lama berendam. Waduh.

Selain berendam, kami juga mencoba hal seru lainnya yaitu masker lumpur mineral. Katanya sih bagus untuk membersihkan kulit mati dan berjerawat. Satu bungkus bubuk lumpur mineral ini dihargai Rp 10.000,-. Saya, Oci dan Bazooka pun langsung mencobanya di muka masing-masing. Enak juga ternyata. Adem.

Masker Mineral Gunung Pancar
Oci, Bazooka dan saya yang mencoba masker lumpur mineral.

Setelah dirasa cukup berendamnya, kami memutuskan untuk beberes dan pulang ke Depok. Seperti tidak rela untuk meninggalkan, kami bermain dulu di hutan pinus yang cantik baru pulang. Lari-lari di hutan pinus, ketawa ketiwi. Puas, rasa stress lepas!!
Foto Balik Pohon Gunung Pancar
Dalam perjalanan pulang ke Depok, kami melihat Gunung Salak yang menjulang dengan gagah di kejauhan. Hari yang asyik ditutup dengan senja yang cantik.
Gunung Salak dari Gunung Pancar
Berendam di air hangat memang menjadi salah satu kegiatan untuk mengisthirahatkan badan dan pikiran. Apalagi lokasi Air Panas Gunung Pancar ini tidak jauh dari Jakarta. Enggak perlu jauh-jauh ke Ciater, Bandung. Ke Gunung Pancar saja 😉

Tips:

  • Untuk menuju Gunung Pancar memang lebih mudah dengan kendaraan pribadi. Saya tidak melihat ada angkutan umum / angkot. Mungkin bisa ambil ojek dari Sentul tapi saya tidak tahu harga pastinya.
  • Di lokasi pemandian tersedia warung makan dan minuman. Jadi kalau lapar bisa langsung makan di sana.
  • Jangan berendam terlalu lama. Nanti pingsan. Habis berendam, disarankan untuk minum banyak air putih untuk menghindari dehidrasi.
  • Happy Traveling!
    Enjoy Indonesia!

    About the author

    An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

    Related Posts