Bandrek Batok Abah Ili, Bandrek Remang-Remang Sumedang

8

Minum bandrek dari gelas mah sudah biasa ya? Gimana kalau misalnya kita nyobain minum bandrek dari batok kelapa dan dengan daging kelapa juga di dalamnya. Apa ya rasanya?

Nah, kalau temen-temen mau nyobain, datang aja ke Bandrek Batok Abah Ili di Sumedang. Kalau aku sih nyebutnya ini Bandrek remang-remang. Soalnya gelap bener warungnya. Di warung sederhana yang didirikan dengan potongan kayu kasar dan berlantai tanah, hanya ada dua lampu sempor yang menjadi sumber penerangan. Melihat muka orang dengan jelas aja susah. Hahaha. Sampai saya waktu mau foto-foto merasa agak canggung dan nggak enak, takut pengunjung yang lain terganggu dengan lampu blitz kamera saya. Hehehe.

Warung bandrek batok abah ili
Warung bandrek remang-remang Abah Ili.

Cuma, disitulah sensasi unik dan ciri khas dari Bandrek Abah Ili ini. Begitu duduk, saya dan teman saya, Boa, memesan dua batok bandrek yang hanya dihargai Rp 3000. Walau murah harganya, rasanya juara. Enak banget diminum di malam hari yang dingin semriwing.

Bandrek dan kue klepon

Awalnya saya heran ketika melihat di dalam bandrek saya ada potongan daging kelapa. Agak aneh aja gitu biasanya minum bandrek susu, sekarang minum bandrek dengan daging kelapa. Ternyata pas dicoba rasanya enak ya…

Untuk menemani kita minum bandrek, tersedia beberapa gorengan dan kue-kue pasar untuk kita santap. Di atas meja ada kue klepon & kue bubur lolos. Baru pernah denger pula itu kue bubur lolos. Tetapi begitu masuk ke mulut dan meleleh, aku langsung menaruh kue ini di daftar makanan favoritku. Kuenya dibuat dari tepung beras dan gula merah, dibungkus daun pisang. Enak banget!

Jajanan bandrek abah
Klepon, gorengan dan bubur lolos 🙂

Abah Ili memulai usaha bandreknya dari tahun 1997. Sewaktu kami datang, yang sedang meracik bandrek adalah Kang Hendar, anaknya Abah Ili. Saya mengobrol sebentar dengan Kang Hendar tentang bandreka enak buatannya.

Kang-Hendar

Kang Hendar mengatakan bahwa resep itu adalah resep asli Bapaknya, Abah Ili. Ketika aku bertanya tentang mengapa warungnya tidak dialiri listrik saja, beliau menjawab banyak pelanggan yang protes.

“Iya dulu itu sudah pernah dialirin listrik 5 watt, eh pelanggan nya protes. Lebih senang sama penerangan kayak begini (lampu sempor) katanya” jawab Kang Hendar.

Ahahaha, lucu juga ya warung Abah Ili ini. Walau tempatnya kecil dan hanya bisa menampung 20 orang, tempatnya selalu ramai oleh pengunjung. Warung ini buka dari jam tiga sore sampai tengah malam.

Warung Bandrek Abah Ili ini berlokasi di Jalan Prabu Tadjimalela, ada di sebelah rumah makan Kampung Tahu. Tanya saja kepada masyarakat sekitar jika tidak menemukannya di GPS. Cari warung yang paling remang-remang di jalan itu ya 😉

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts