Deg-degan Bertemu Si Komo, Komodo


Panas terik matahari yang membakar kulit tidak menyurutkan semangat kami untuk trekking di Taman Nasional Komodo. 
Peluh mengucur sebesar bulir-bulir jagung. Bukan karena kepanasan saja, tetapi deg-degan akan bertemu Komodo untuk yang pertama kalinya.
Kalian tahu apa itu Komodo?


Komodo adalah salah satu binatang purba yang masih bertahan hidup hingga saat ini selain hiu dan penyu. Mereka adalah hewan-hewan yang punya kemampuan survival yang hebat. 
Sebelum saya berangkat ke Taman Nasional Komodo, saya mencari tahu info-info dari google. Dari hasil pencarian itu, saya melihat bahwa siapapun yang pernah berkunjung ke Taman Nasional Komodo pasti akan berdecak kagum dengan binatang besar nan lincah itu. Ah, semakin tak sabar aku ingin bertemu.


Butuh waktu sekitar 1 jam naik speed boat dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pulau Komodo. Syukurlah cuaca laut cerah dan tenang sepanjang jalan sehingga selama 1 jam kami tertidur di boat.
Begitu kapal mendarat di dermaga Pulau Komodo, jantung saya berdegup. Sebentar lagi saya akan bertemu dengan Komodo, binatang yang resmi menjadi New Nature Seven Wonders pada tahun 2012 lalu. Saat itu saya berharap rombongan kami beruntung untuk bertemu komodo, karena katnaya tak selalu pengunjung bisa bertemu dengan komodo. Untung-untungan memang.

Komodo tidak tinggal di dalam kandang, tetapi dibiarkan bebas di alamnya. Jadi pengunjung yang datang ke Taman Nasional Komodo tidak semuanya beruntung bertemu komodo. Disarankan tidak datang pada bulan Juli-September karena itu adalah musim kawin Komodo. Jika sedang musim kawin, komodo sangat sulit untuk dijumpai.
Ada tiga rute trekking yang ditawarkan ranger Taman Nasional di pintu masuk. Karena keterbatasan waktu, kami memilih rute medium track saja. Kunjungan berikutnya saya ingin sekali mencoba long track-nya.


Untuk short track, jarak yang ditempuh sejauh 1 km selama setengah jam melalui Palm Grove dan Frigata Hill. Jika memilih medium track sejauh 3 km kita akan melintasi Palm Grove, Water Hole, Sulphurea Hill, dan Frigata Hill selama
kurang lebih 1.5 jam. Untuk Long track sejauh 4,5 km, kita akan diajak melalui Palm Grove, Water Hole, Megapode Nest, dan Dragon Nest.
Loh Liang adalah pintu utama di Taman Nasional Komodo, tempat kami akan memulai trekking bersama ranger. Ou iya, Loh Liang itu berasal dari kata “Loh” yang berarti lubang dan “Liang” yang berarti sarang. Jadi “Loh Liang” diartikan sebagai lubang sarang si Komodo.
Kamu tahu nama lain dari Komodo?
Ora!
Iya, itu nama lainnya. Sebelum nama komodo itu disematkan, orang Manggarai zaman dulu menyebut biantang komodo dengan nama Ora.
“Eh itu ada komodo jalan ke sini” ujar temanku.
Benar saja ada satu komodo bertubuh besar yang berjalan ke bawah pohon yang rindang lalu merebahkan dirinya di atas daun-daun gugur. Ternyata komodonya mau ngadem. 
“Komodo itu berdarah dingin. Jadi jika siang terik begini mereka akan berteduh di bawah pohon atau dekat semak-semak rimbun untuk mendinginkan tubuhnya” ujar Abang Ranger kami.
Bak artis Hollywood, si Komodo yang sedang bermalas-malasan di bawah pohon itu langsung menjadi sorotan utama kamera seluruh pengunjung TN Komodo yang ada di sekitar situ. Banyak sekali wisatawan asing yang membawa lensa untuk mendapatkan gambar terbaik dari Komodo yang selalu enggan didekati. 
Saya juga tak mau ketinggalan untuk mengambil fotonya meski saya deg-degan. Agak takut juga dia bangun dan lari mengejar kita.
Meski badan Komodo besar begitu, dia lincah lho. Saat berlari, kecepatannya mencapai 18 KM per jam. Wow! Dia juga bisa berenang lho! Mau lari kemana coba kalau dia mengejar kita? Makanya jangan macam-macam deh.
“Semoga nanti di jalur kita bisa bertemu lebih banyak lagi komodo. Ayo kita berangkat sekarang”, ajak si Abang ranger.
Sebelum memulai trekking, Bang Ranger memberikan briefing singkat tentang apa saja yang harus diperhatikan saat trekking. Yang paling utama adalah jangan sampai memisahkan diri dari rombongan dan dilarang gaduh agar tidak menganggu komodo.

“Komodo itu paling berbahaya air liurnya yang mengandung bakteri mematikan. Penawarnya susah, hanya ada di Bali. Untuk ke sana saja sudah makan waktu lama. Jadi jangan coba-coba mendekat. Meski tak banyak bergerak, kalau sudah dikejar Komodo susah nanti”, ujar Bang Ranger.
Kami mengangguk untuk setiap arahan yang diberikan dan berdoa bersama agar perjalanan kami dilancarkan, semua selamat dari air liurnya Komodo. Duh jangan sampai terkena ya.

Abang Ranger mengambil kayu bercabang dua yang ada di sebelah kiri pintu masuk. Kayu itu memang wajib dibawa ranger sebagai alat pelindung jika sewaktu-waktu komodo menyerang. 

Mulai menapaki jalur yang sudah diberikan petunjuk jelas, kami melihat banyak rusa-rusa berkeliaran. Sama seperti komodo, mereka hidup bebas di Loh Liang. Terlahir, hidup untuk menjadi santapan komodo. Kasihan juga ya.


Tapi yang lebih sedih sih begitu tahu ternyata Komodo juga memakan anaknya. Hiks. Kanibal ternyata dia.


Abang Ranger lalu menunjuk pohon-pohon Lontar yang banyak terdapat di sepanjang jalur dan menjelaskan bahwa pohon-pohon itulah tempat anak komodo menyelamatkan diri. 
“Anak Komodo biasanya berlindung di atas pohon hingga berumur empat tahun” kata Abang Ranger.
Meski begitu, bukan berarti selama-lamanya anak Komodo akan bertengger di atas pohon dan tidak turun mencari makan. Biasanya mereka turun pada pagi hingga siang hari untuk berjemur, minum dan mencari makan. Ketika hari sudah sore, mereka pulang ke kandang, ke atas pohon.

Ternyata kami hari itu beruntung. Hingga sore, total Komodo yang saya jumpai sekitar 20 ekor baik yang di Pulau Komodo atau Pulau Rinca. Ukurannya pun berbeda-beda. Mulai dari yang masih kecil hingga yang sudah berusia 45 tahun, saya jumpai semua.

Hari yang begitu menyenangkan dan mendebarkan ketika akhirnya bisa bertemu dengan Varanus komodoensis alias si Komodo. Semoga mereka tidak punah dan terus mampu beradaptasi agar tetap bisa dilihat langsung oleh anak cucu kita nantinya.

Keragaman alam dan budaya adalah pesona Indonesia. Tentu saja Komodo, si Nature 7 Wonders termasuk di dalamnya. Yuk berkunjung ke Taman Nasional Komodo.

Tips Trekking di Pulau Komodo :

  • Pakai sepatu! Ini penting! Bukan karena kita sedang berlibur di pulau dan pantai jadinya tidak membawa sepatu. Tidak harus sepatu gunung asalkan nyaman dan bukan sepatu ke mall.
  • Pakailah baju berbahan katun atau quick dry agar lebih nyaman. 
  • Pakailah sunblock dan jangan lupa untuk mengoleskannya lagi ke wajah dan tubuh setiap 2 jam sekali.
  • Topi juga jangan lupa agar kepala tidak langsung tersengat panas.
  • Bawalah tas kecil yang berisi air mineral dan cemilan saat trekking. Jika kelelahan bisa isthirahat sejenak.


     Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Flores. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaFlores #PesonaIndonesia #SaptaNusantara.


About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts