Edukasi Whale Shark dan Arogansi Derawan Fisheries

128
Whale Shark and Diver. Photo Credit : @audreyjiwajennie
Sejak kecil, saya dibekali buku-buku cerita bergambar karakter biota laut. Dan dari seluruh karakter, saya paling suka paus dan hiu paus, dua makhluk terbesar seantero samudera. Meski sama-sama punya nama paus, hiu paus sebenarnya bukan paus, melakinkan jenis hiu. Karena ukurannya besar seperti paus dengan panjang 6 – 18 meter, disebutlah hiu paus (whale shark). Adalah satu mimpi dimana saya ingin sekali melihat mereka di lautan bebas, bukan di akuarium. Tapi sampai sekarang keinginan itu belum terpenuhi. Tak apa. Satu waktu kita pasti jumpa ya.

Untuk berjumpa dengan paus memanglah susah. Paus biasa berenang di perairan dalam dan hanya sesekali naik ke permukaan laut. Satu-satunya yang mungkin bisa dilihat dari dekat adalah hiu paus atau whale shark, yang memang dikenal sebagai perenang yang lambat dan sering naik ke permukaan untuk makan plankton dan ikan-ikan kecil. Acap kali dia disebut sebagai ‘raksasa lembut’. Dulu, satu-satunya titik yang saya tahu untuk melihat hiu paus di Indonesia hanya di Taman Nasional Cenderawasih yang ada di Kwatisore ,Teluk Cenderawasih, Papua.
Saya baru tahu bahwa hiu paus juga bisa ditemui di perairan Sabang, Situbondo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua. Lalu satu-dua tahun belakangan diketahui keberadaan sekelompok ikan hiu paus di Talisayan, Berau, Kalimantan Timur dan di Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo.
Hiu paus dikenal dengan bentuk kepalanya yang lebar dan gepeng dengan mulut, garis insang dan sirip punggung (dorsal) pertama yang besar serta pola totol-totol putih dan garis di kulitnya yang cenderung berwarna keabu-abuan. Ada hipotesa yang menyatakan bahwa pola tersebut merupakan bentuk kamuflase dan adaptasi untuk memfilter sinar ultraviolet (UV) karena hiu paus termasuk jenis ikan yang banyak menghabiskan waktu di dekat permukaan laut (Colman, 1997).
Sama seperti jenis hiu lainnya, hiu paus tumbuh dan berkembang dan proses menjadi dewasa-nya berjalan lambat dan cenderung berumur panjang, Karakteristik ini yang menjadikan hiu paus rentan terhadap eksploitasi karena kemampuan reproduksinya yang rendah (Colman, 1997).
Oleh karena itulah dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 18/Kepmen-KP/2013 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (rhincodon Typus). Berdasarkan keputusan itu, hiu paus dinyatakan resmi telah dilindungi secara penuh di perairan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa segala bentuk eksploitasi terhadap ikan ini dilarang.

Pariwisata dan Whale Shark


Kemunculan Whale Shark yang terkenal “ramah” kepada manusia ini dan dikombinasikan dengan social media power membuat wisatawan berbondong-bondong ingin berenang dan berinteraksi langsung dengan hiu paus.  Siapa sih yang tidak ingin melihat hiu paus dari dekat? Saya pribadi pun ingin sekali berjumpa dengan mereka.
Namun, kegiatan wisata berbasis hiu paus yang kurang terkontrol dapat memberikan dampak yang negatif terhadap perubahan perilaku hiu paus. Menurut Craven (2012), pemberian makan di Oslob-Cebu, Filipina dapat menyebabkan hiu paus mengasosiasikan manusia dengan makanan sehingga mereka akan cenderung mendekati manusia. Petunjuk berinteraksi yang sudah ditetapkan, harus dipastikan pelaksanannya melalui pengawasan dan penegakan aturan di lapangan untuk mengurangi dampak kegiatan wisata dan menjaga kealamian interaksi dengan hiu paus (Quiros, 2007).
Seperti itulah kondisi yang terjadi di Talisayan, Berau, Kalimantan Utara. Kemunculan hiu paus di sekitaran kawasan bagan-bagan ikan di Talisayan dimanfaatkan untuk mempromosikan pariwisata bahari dengan atraksi utama berenang dengan hiu paus. Nelayan bagan rutin memberikan makan hiu paus agar mereka selalu mendekat ke bagan lalu para wisatawan dapat berenang berdekatan.
Sayangnya, masih banyak yang belum tahu tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dengan hiu paus. Dan sangat disayangkan, tidak hanya wisatawan, tetapi tour organizer juga tidak mengetahui peraturan ini.

Jadi, bagaimana seharusnya berinteraksi dengan Hiu Paus / Whale Shark?


Pada 22 Januari 2013 lalu, Taman Nasional Teluk Cenderawasih mengeluarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) Wisata Whale Shark. Pun begitu dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya dan Pesisir Laut yang kurang lebih sama. Ini yang perlu diketahui oleh kita semua. Semua. Tak terkecuali. Tolong dibaca dengan baik ya.

  1.  Kapal / perahu harus mengurangi kecepatan maksimum 10 knot dalam jarak 1 km dan 2 knot dalam jarak 50 meter dari bagan dengan Hiu Paus.
  2. Kapal / perahu harus diparkir di sisi lain bagan yang tidak ada hiu pausnya.
  3. Kapal / perahu harus menjaga jarak dengan Hiu Paus dan tidak boleh lebih dekat dari 20 meter.
  4.  Hanya boleh ada 1 kapal / perahu dengan 1 grup per bagan.
  5.  Pemimpin tur harus melakukan briefing singkat, 10 – 15 menit sebelum masuk ke air. Isi briefing harus mencakup ucapan selamat datang dan perkenalan diri, pengaturan waktu dan destinasi, pengenalan terhadap Hiu Paus, aturan untuk berinteraksi dengan hiu paus dan undangan untuk bertanya. Briefing dapat dilakukan dalam perjalanan menuju bagan.
  6. Selama kegiatan berlangsung, kapal / perahu harus tinggal di air dengan mesin mati. Siap untuk memberikan bantuan medis.
  7. Tidak diperbolehkan lebih dari 10 orang dalam satu grup per bagan dan 5 adalah angka yang ideal. 
  8.  Durasi kunjungan adalah antara 60 – 90 menit untuk tiap grup.
  9. Pemimpin tur turun pertama kali, diikuti oleh para tamu. Di dalam air, pemimpin tur berperan sebagai pemimpin grup yang harus memperhatikan dan siap membantu semua peserta.
  10.  Snorkeler harus mengikuti instruksi dari pemimpin tur.
  11. Snorkeler harus masuk ke dalam air setenang mungkin.
  12.  Snorkeler harus menjaga jarak untuk memberi ruang kepada Hiu Paus. 2 meter dari tubuh Hiu Paus dan 3 meter dari ekornya.
  13.  Snorkeler tidak boleh mengeluarkan suara keras, melakukan gerakan yang mendadak dan memercikkan air yang dapat memprovokasi atau mengganggu Hiu Paus.
  14.  Tidak boleh menyentuh dan atau mengejar hiu paus secara aktif. Bila snorkeler didekati oleh Hiu Paus, snorkeler harus tetap tenang dan berenang ke samping.
  15.  Snorkeling adalah pilihan yang paling baik untuk mengamati hiu paus, namun penggunaan scuba masih diperbolehkan asalkan jumlahnya dibatasi, hanya 1-2 orang penyelam dalam satu grup dan jarak antara penyelam dengan hiu paus dan snorkeler harus diatur (penyelam harus mengamati dari jarak yang lebih jauh, sementara snorkeler dapat mengamati dari jarak yang lebih dekat. Hal ini penting untuk dilakukan agar setiap pengunjung dapat menikmati kunjugannya. Snorkeler tidak akan terganggu dengan gelembung dari penyelam).
  16.  Penggunaan kamera diperbolehkan namun penggunaan flash harus dibatasi. Flash diperbolehkan bila pengambilan gambar diambil dari jarak empat meter.
  17. Para tamu harus segera berenang kembali ke kapal / perahu sesuai durasi kunjungan.
  18.  Pemimpin tur harus menjadi orang yang terakhir keluar dari air.
  19. Pemimpin tur dapat menanyakan komentar para tamu tentang kegiatan mereka.
  20.  Pemimpin tur harus menyiapkan kuesioner yang harus diisi oleh penyelam berisi tentang hiu paus yang dijumpai. Di koordinat berapa, garis kedalaman berapa dan prediksi ukurannya.
  21.  Setiap pengunjung operator wisata dan kapal / perahu harus mematuhi standar operasional ini demi kelestarian whale shark. Bila melanggar peraturan, maka pihak yang berwenang memiliki hak penuh untuk memberikan sanksi berupa pembatalan tur sampai pencabutan izin operator wisata atau kapal / perahu untuk masuk ke kawasan.
Coba dibaca poin 14 dimana tertulis “Tidak boleh menyentuh dan atau mengejar hiu paus secara aktif. Bila snorkeler didekati oleh Hiu Paus, snorkeler harus tetap tenang dan berenang ke samping”.  Peraturan ini jelas-jelas ada namun seakan diabaikan oleh orang-orang yang sangat ingin eksis dan jadi keren di dunia maya.

Cobalah bandingkan tulisan  Berenang Bersama Whale Shark di Indonesia dengan  Berenang Bersama Whale Shark di Western Australia yang dituliskan Mas Fedi Fianto atau Berenang Bersama Whale Shark di Oslob, Filipinayang ditulis oleh Ismarul Nizam. Untuk menjadi gambaran, bagaimana seharusnya kegiatan berenang bersama whale shark, dilakukan. Coba kalian telaah sendiri ketiga tulisan tersebut.

Ada juga tertulis di website WWF tentang Tips Berinteraksi dengan Hiu Paus :

  1. Jaga jarak. Beri ruang untuk hiu paus sejauh 2m dari badannya dan 3m dari ekornya bila berenang bersama. Walaupun hiu paus bergerak secara perlahan, tapi sangat berisiko terkena hempasan ekornya atau badannya yang besar.
  2. Sebaiknya jangan menggunakan alat selam atau menyelam di sekitar hiu paus. Pun kalau ada, pastikan hanya dua penyelam dalam satu kelompok. Ini karena hiu paus akan mudah terganggu dengan gelembung udara ketika menyelam. 
  3. Mohon antri. Kalau mau snorkeling bersama hiu paus, digilir per kelompok. Satu grup maksimal 6 orang dan satu pemandu. Jadi kalau kamu dan rombongan mau snorkeling, bikin kloter berkali kali ya jangan sekali brek! 
  4. Kamera buat selfie? Boleeeeh asal matikan flash-nya ya! Kilatan cahaya bisa ganggu hiu pausnya loh.
  5. Kalau di dalam air, usahakan setenang mungkin.
  6. Jangan teriak-teriak di dalam air atau nyipratin air bak film India ke hiu paus ya, bakalan mengganggu hiu pausnya.
  7. Ini yang paling penting, jangan memegang dan mengejar hiu paus. Kalau dideketin, usahakan tenang ya.
  8. Ingat, hiu paus adalah satwa liar.

Arogansi Tour Organizer bernama Derawan Fisheries


Kasus ini terjadi kemarin, saat saya dimention oleh teman saya Ruby @rubyperkasa di salah satu foto yang dimiliki akun Instagram @derawanfisheries. Saya melihat sang empunya foto sedang tiduran santai di atas floaties (pelampung berbentuk kasur) dan menyentuh kepala whale shark yang ada di hadapannya. Saya cek akun Instagramnya dan ternyata ada banyak sekali foto-fotonya yang lain berinteraksi sangat dekat dengan whale shark. Saya mencoba menegur dengan baik, namun yang saya dapat malah caci makian kasar. Meski sekarang jika mengecek akun Instagramnya, foto dan komentar-komentar sudah dihapus, namun screencapture-nya masih saya simpan. Seperti yang bisa teman-teman lihat di bawah ini.

Isi percakapan dengan Derawan Fisheries,..

Saya sangat menyayangkan bahwa kalimat kasar tersebut, keluar dari Tour Organizer yang tampaknya cukup terkenal di Derawan. Pun, ia merupakan pemilik dari penginapan yang berbasis “eco” yang dinamakan Derawan Fisheries. Ah, apa iya berbasis “eco” padahal pemiliknya sendiri tidak mengerti apa yang dimaksud dengan istilah “eco”, “eco-tourism” atau “eco-friendly”?
Setelah kata makian “anj**g” yang diketikkannya, saya sudah malas menanggapi. Screencapturetersebut lalu saya upload ke media sosial pribadi, path, yang lalu membuat banyak teman-teman geram. Mereka turut berkomentar dan memberi nasihat di akun tersebut namun teman-teman saya itu juga turut disebut “anj**g”.
Ternyata tidak hanya saya. Ada banyak orang sebelumnya yang sudah berusaha untuk menegur dan menasihati Bapak Harry Gunawan dari Derawan Fisheries tersebut yang hanya dianggap sebagai angin lalu.
Bahkan Om @pinneng seorang master dive yang berekelebat lama di dunia bawah laut ikut berkomentar. 
“Gitu z kok repot, santai z Mba. Gak usah nyampah di IG saya, klw gak suka tinggal unfoll z,, situ macam okay2nya z..”
Begitu jawabannya saat ditegur oleh akun @edelweiss_blogger.
Oh, beginikah perangai dan mental trip operator di Indonesia? Tidak punya etika dan menghalalkan apa saja, termasuk abai pada peraturan lingkungan, untuk jadi keren, terdepan dan selalu kebanjiran wisatawan? Pantaskah pribadi-pribadi seperti ini menjadi pelaku pariwisata? Coba, kalian bantu jawab pertanyaan saya.
                Di salah satu foto yang ia unggah di akun Instagramnya, tertulis bahwa Ia mengucapkan terima kasih atas pemberian buku “Panduan Wisata Hiu Paus” dari BPSPL (Balai Pengelolaan Sumber Daya dan Pesisir Laut) wilayah Kalimantan.
“Semoga dapat bermanfaat untuk semua sebagai salah satu pedoman berwisata di Kepulauan Derawan” ucapnya.
Bukunya kemana Mas? Sudah dibaca atau  cuma dipakai buat ganjel pintu?
Seharusnya jika ia sudah membaca dan menelaah dengan baik isi dari buku tersebut, tentu saja ia malu dan tahu apa yang dilakukan terhadap hiu paus itu salah. Menyentuh dan berenang sambil memegang sirip hiu paus sama sekali tidak dibenarkan. Bagaimana mau memberi contoh baik kepada wisatawan yang dia bawa jika dia sendiri melanggar peraturan?
Tujuan saya menulis ini, bukan semata-mata untuk menyerang Harry Gunawan. Melainkan memberikan gambaran kepada teman-teman tentang apa yang dimaksud pariwisata berbasis lingkungan, apalagi yang terkait dengan interaksi bersama hewan. Tidak hanya hiu paus, tetapi juga penyu, manta, paus, lumba-lumba, pun semua binatang yang ada di darat dan di udara, tidak boleh kita sentuh dan eksploitasi.
Saya mengunggah foto-foto Harry Gunawan hanya untuk menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan di dalam foto tersebut adalah salah dan tidak sepatutnya ditiru. Saya yakin teman-teman yang membaca pasti bisa mengerti dengan apa yang saya maksud. Mari sama-sama saling mengingatkan. Pun dia tidak meminta maaf kepada saya atas perkataan kasarnya tak apa. Saya tidak meminta itu. (*update* terhitung tanggal 14 Juni 2016, Pak Harry Gunawan sudah menghubungi saya via jaringan pribadi dan telah meminta maaf. Kami berdua sudah menyelesaikan masalah ini baik-baik. Semoga kedepannya lebih baik lagi. Amin)
Apa tujuan saya membuat tulisan seperti ini? Tak lain hanya ingin berbagi informasi yang baik. Tak ada niatan memboikot Derawan Fisheries atau bagaimana. Sebagai lulusan sarjana Pariwisata, saya pribadi tentu ingin sekali pariwisata Indonesia terus berkembang dan membawa dampak baik dan kesenangan bagi semua kalangan. Saya ingin jumlah wisatawan meningkat tetapi tingkat pengetahuan akan peduli terhadap alam  juga meningkat. Bukan untuk kebaikan pribadi, tetapi untuk seluruh khalayak di bumi. 
Jika ingin tahu lebih lanjut tentang Whale Shark, silahkan kunjungi Facebook Page Whale Shark Indonesia. Bisa juga baca Panduan Teknis Pemantauan Hiu Paus yang dikeluarkan WWF dan Taman Nasional Cenderawasih. Bisa juga baca Leaflet dari WWF tentang Whale Shark.
Mari belajar menjadi pejalan bertanggung jawab,
menjadi Tour Organizer yang bertanggung jawab yang paham bagaimana mengelola pariwisata yang berkelanjutan. Semoga kita tidak hanya berorientasi pada profit semata, namun juga mengutamakan konservasi hiu paus di mana pun mereka berada.

“Be kind to nature because nature is not to be raped and conquered. Nature is ourselves, to be cherished and explored”
About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts