Kampung Al-Munawar, Rekam Jejak Arab di Palembang

16
Photo by : +Swastika Nohara 
Mengunjungi kampung adat atau kampung budaya selalu menggairahkan untuk saya. Di kunjungan ke Palembang bersama tim Pesona Indonesia kali ini, saya beruntung diajak mengenal kebudayaan masyarakat di Kampung Al-Munawar atau yang sering disebut Kampong Arab. Letaknya yang berada di daerah 13 Ulu sering membuat kampung ini disebut dengan nama lain Kampong 13 Ulu atau Kampong Arab 13 Ulu.


Di Palembang, kita pasti akan sering mendengar istilah nama daerah Ulu dan Ilir. Katanya, Jembatan Ampera itu adalah titik tengahnya, jadi setengah bagian Palembang disebut ‘Ulu’ untuk bagian hulu Sungai Musi dan ‘Ilir’ untuk bagian hilir sungai.

Saat itu Jumat siang, kampong terlihat sepi karena para pria sedang pergi ke Masjid untuk menjalankan ibadah sholat Jumat dan para perempuan ada di dalam rumah. Kami lalu duduk di halaman rumah, menghalau matahari yang terik.


Kuarahkan pandangan ke sekeliling lapangan yang sepertinya menjadi pusat Kampung Al Munawar dan memperhatikan bentuk-bentuk rumah. Ada yang berbentuk rumah limas, rumah adat Sumatera Selatan. Ada juga rumah yang kental dengan sentuhan Timur Tengah dan Eropa. Kita bisa melihat rumah dengan pintu tinggi berlantai marmer dan ukiran-ukiran kayu di bagian atas rumah.


Terasa kan sentuhan Eropa-nya?
Ada delapan rumah yang ada di Kampung Al Munawar berusia lebih dari 250 tahun. Wow! Sudah tua sekali dan sampai sekarang masih kokoh berdiri. Tidak terlihat dari penampakan depan rumahnya yang dicat putih bercampur hijau, ungu dan merah jambu. Rumah itu sudah tidak terkesan “tua” lagi. Andai kata rumah itu dicat dengan warna yang lebih kalem seperti coklat kayu, mungkin lebih enak dipandang mata dan kesan tua-nya masih melekat. Eh tapi kalau coklat doang, nggak Instagramable dong ya? Hehehehe…

Tak ayal rumah-rumah kayu ini masih berdiri meski sudah berselang ratusan tahun sejak dibangun. Ternyata rahasianya adalah kayu yang dipakai adalah kayu Ulin (kayu Unglen disebutnya dalam bahasa Palembang). Begitu pula dengan lantai marmernya yang cantik sekali, didatangkan langsung dari Italia, katanya.

Untuk memasuki perkampungan ini, kita akan melintasi jalan kecil atau bisa disebut gang yang bisa dilewati satu mobil. Sangat disayangkan tidak ada gapura ala-ala yang menunjukkan bahwa pengunjung memasuki Kampung Wisata Arab, padahal jika ada pastinya menarik sekali.

Meski tak ada gapura, dari bagian depan gang, sudah terlihat banyak spot / sudut untuk mengambil potret yang bagus. So Instagramable! Mulai dari dinding kayu tua, jendela kayu besar yang terbuka, lorong kecil itu dengan langit biru di atasnya.

Gedung tua bekas hunian yang kini menjadi Madrasah Ibtidaiyah.
Kampung Al Munawar merupakan Kampung pemukiman Arab pertama di Palembang, terletak di tepian Sungai Musi yang sering kali disebut “Laot” atau laut oleh masyarakat. Mungkin karena begitu lebarnya Sungai Musi itu ya.

Habib Abdurrahman Al Munawar adalah tokoh yang dihormati, dan juga menjadi asal muasal nama kampung ini. Beliau adalah salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam mula-mula di kawasan ini.

Ada sekitar 30 kepala keluarga (kira-kira 300 penduduk) yang mendiami Kam
pung Al Munawar. Mereka semua mempunyai tali darah persaudaraan karena aturan yang tidak membolehkan mereka untuk menikah dengan orang di luar kampung. Namun aturan itu hanya berlaku untuk para perempuannya saja. Para pria tetap boleh menikahi perempuan di luar kampung namun tetap saja darah Arabnya masih kental dari garis keturunan Ayah.

Jika kalian berkunjung kesana, berasa nggak lagi di Indonesia karena bertemu dengan wajah-wajah yang Arab banget dengan hidung mancung, wajah tampan rupawan. Para wanitanya pun tak kalah cantik meski bebeberapa mengenakan cadar. Tampak mata saja mereka sudah sangat mempesona, bagaimana jika tampak semuanya ya?

Sayangnya para perempuannya malu-malu saat diajak berfoto bersama. Malah satu gambol anak kecil bernama Bagir, Nizom, Maliki dan Ridho yang senaaaaaaaang sekali difoto. Bahkan karena saya sempat mengambil video untuk snapchat-an(live video) dari Kampung Al Munawar, mereka mendekat dan berkata “Ayo, rekam lagi Ayuk (panggilan untuk kakak perempuan)”. Adegan yang paling mereka suka adalah adegan bersin. Semuanya bermula saat saya bersin besar sekali (oh ya kalau yang sudah pernah ketemu langsung dengan saya pasti tahu kalau saya bersin, pohon mungkin bisa roboh, hahahaha). Jadilah mereka Cuma mau adegan itu aja, gak mau diajak foto manis.

Difoto juga posenya mau bersin ajah…
Seru-seruaaaaann 😀

Mereka berpakaian baju rumah dan membawa yoyo. Ketika saya tanya kenapa mereka tidak sekolah, katanya sekolahnya sedang libur. Lho ini kan hari Jumat, saya bingung. Eh ternyata di Kampung Al Munawar ini, sekolah diliburkan di hari Jumat tetapi hari Minggu tetap masuk. Wah, unik sekali. Pendidikan Agama memang sudah ditanamkan sejak dini di kampung Al-Munawar, tepatnya di Madrasah Ibtidaiyah Al-Kautsar (setara Sekolah Dasar). Sayangnya karena sekolah libur, kami jadi tidak bisa melihat bagian dalam sekolah padahal saya tertarik sekali.


Ketika para lelaki sudah kembali dari masjid, kami diundang masuk ke rumah oleh Ami (dalam bahasa Arab artinya Paman dari garis keturunan Ayah). Ternyata hidangan di atas kain sudah tersedia. Ada beragam menu yang wanginya menggugah selera.



Ummi yang memasakkan makanan menjelaskan bahwa yang terhidang adalah hidangan yang biasanya disajikan saat “munggahan” atau acara perkawinan. Ada Nasi Minyak sebagai menu utama yang lalu disantap dengan beberapa lauk yaitu Kari Kambing, Ayam Gulai, Selado, Sambal dan Acar Nanas. Nggak butuh lama, semua piring-piring itu tandas. Eh buset ini semua pasukan pada lapar dan gragas.

Photo by : Sutiknyo Lostpacker

Photo by : Sutiknyo Lostpacker

Eh tapi jangan lupa untuk cuci tangan sebelum makan ya. Tidak perlu jauh-jauh ke kamar mandi untuk cuci tangan karena di samping hidangan sudah tersedia teko berwarna perak untuk cuci tangan.


Selain menu “munggahan”, Ummi juga menyediakan kopi khas Palembang (yang terkenal dengan merek “Sendok Mas”) di teko kecil berwarna emas dan dituang ke gelas sloki kecil. Kopinya harum dan enak banget. Katanya sih itu pengaruh teko mas kecil itu. Hahaha. Saking enaknya, kami menanyakan dimana bisa membeli kopi itu dan menitipkan kepada teman untuk membelikannya di Pasar Cinde. Hore!


Perut masih terasa begah (kebanyakan makan sih) sewaktu kami diajak untuk pindah ke rumah sebelah dan menyaksikan ‘Gambus’, salah satu seni tradisional dari Arab. Rebana ditabuh be
rtalu-talu, diiringi petikan gitar khas, menghasilkan alunan musik Timur Tengah. Lalu masuklah dua orang Bapak yang dengan kompak menari, mengikuti irama music yang semakin lama semakin bersemangat. Tampak beberapa kali mereka saling pandang dan tertawa. Ah, ingin sekali saya bergabung namun tak boleh. Tarian ini hanya dibawakan oleh para pria. Meski begitu, badan saya tak tahan ikut bergoyang-goyang kecil sambil merekam tarian mereka.

Penabuh rebana

Ami

Ruangan tua dengan dinding kusam itu seketika berubah menjadi ballroom mewah dengan tari-tarian gembira di dalam imajinasi, alunan rebana memberi semangat, lirik Arab meski tidak saya mengerti namun mampu menjadi penghangat hati.


Semoga dengan segala pesona yang dimiliki, Kampung Al Munawar ini akan mendunia ya. Rekam sejarah dan budaya, penduduk yang ramah serta jamuan lezatnya pasti bisa menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Tentu saja perlu peran saya, peran kamu dan peran kita untuk mengenalkannya kepada dunia ya 😉

Foto keluarga besar dulu ya.

Dinding dan jendela ini Instagramable banget kan? 😉 Taken by : +Firsta DYI 

Tips ke Kampung Al Munawar :

  • Untuk mencapai Kampung Al Munawar ini bisa via darat dan sungai. Untuk via darat, bisa naik angkutan umum berwarna biru dari Tangga Takat atau dari Pasar 7 Ulu atau 10 Ulu (dekat jembatan Ampera).
  • Jika teman-teman memilih untuk ke Kampung Al Munawar via sungai, bisa naik perahu dari Benteng Kuto Besak ke tepian Kampung langsung.
  • Jika teman-teman butuh local guide untuk kesana bisa kontak Pak Latief di 0813-7333-2436.

Beberapa cerita lainnya tentang Kampung Al Munawar :




Gerhana Matahari Total di Palembang akan diadakan pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang. Pesan tiket ke Palembang sekarang dan jangan lewatkan fenomena alam yang terjadi satu kali dalam 350 tahun ini.




Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Sumatera Selatan . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Palembang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSriwijaya #WonderfulSriwijaya #PesonaPalembang #PesonaIndonesia

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts