Kenalan Yuk Sama Suku Bajo di Wakatobi

6

Siapa sih yang enggak pengen ke Wakatobi? Kepulauan yang terletak di Sulawesi Tenggara ini sangat terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya dan keunikan suku aslinya, suku Bajo yang sering disebut Sea Gypsy / seanomaden (orang yang hidupnya berpindah-pindah namun di laut). Wakatobi sendiri merupakan kepanjangan dari nama pulau-pulaunya yaitu WAngi-wangi, KAledupa, TOmia dan BInongko. Wakatobi termasuk dalam segitiga karang dunia dan menjadi surga bagi penggemar diving (menyelam). Pantas saja banyak orang yang ingin sekali mengunjungi Wakatobi walaupun perjalanan kesana tidak mudah dan tidak murah. Kita harus merogoh kocek sekitar 5-7 juta untuk wisata 4 hari 3 malam. Kalau backpacking bisa lebih murah kali ya.
Cara menuju Wakatobi dari Jakarta adalah dengan naik pesawat ke Makassar lalu dilanjutkan dengan naik pesawat kecil (Express Air) ke Wangi-wangi. Bisa juga dengan naik pesawat dari Jakarta – Kendari lalu naik kapal laut ke Wangi-wangi sekitar 12 jam. Jauh men!
Saya pernah membaca suatu artikel yang mengatakan Suku Bajo di Wakatobi merupakan populasi terbesar Suku Bajo di Indonesia. Pantas saja, di sekeliling pulau, rumah panggung yang terbuat dari bambu dan kayu berdiri tegak berdempet-dempet (berdekatan) di atas laut. Dulunya, suku Bajo tinggal di atas perahu soppe yang beratap rumbia atau “palema” dan berlayar kemanapun mereka mau. Mereka pernah berlayar hingga Madagascar di Afrika dan punya kemampuan survival laut yang keren. Itulah mengapa suku Bajo dikenal sebagai pelaut tangguh hingga sekarang disamping suku Bugis, Mandar dan Makassar. Bayangkan betapa hebatnya mereka sejak zaman nenek moyang mengarungi lautan tanpa alat navigasi modern, hanya mengandalkan angin dan gugus bintang.

Saya bisa mengunjungi Wakatobi gratis dalam rangka mengikuti Sail Wakatobi yang diadakan Juli-Agustus 2011 lalu. Sebelumnya saya juga pernah menginjak Wakatobi tahun 2010 ketika mengikuti Sail Banda, tetapi cuma satu hari. Sewaktu Sail Wakatobi ini pun, saya dan teman-teman hanya mendapat jatah 2 hari bersandar di Wangi-wangi. Singkat sekali dan gak bisa menjelajah keseluruhan pulau karena harus mengikuti jadwal acara dari Sail Wakatobi. 
Logo Sail Wakatobi – Belitong 2011
Sewaktu menginjakkan kaki di Wakatobi pada tahun 2010, saya ingin sekali bertemu langsung dan berbincang dengan suku Bajo yang asli, namun karena keterbatasan waktu, rencana itu disimpan dulu. Hingga pada tahun berikutnya, ketika saya datang ke Wakatobi untuk kedua kalinya, saya berjanji harus mengunjungi dan melihat pemukiman suku Bajo dari dekat. Titik.
Tetapi, rangkaian acara Sail Wakatobi yang padat, membuat saya tidak bisa kabur dari barisan dan pergi ke perkampungan suku Bajo. Akhirnya, pada hari terakhir kami berada di Wangi-Wangi, saya nekat meminjam sepeda kepada salah seorang perwira kapal. Saya yang susah bangun pagi ini berusaha bangun jam 5 pagi, mengendap-ngendap keluar kapal dan berencana kembali ke kapal saat makan pagi. Kalau ketahuan bisa berabe / bermasalah, makanya saya enggak ngajak siapa-siapa. Karena kalau nanti ketahuan dan dihukum ya sudah, saya sendiri yang nerima, teman yang lain tidak disangkutpautin. Ya, saya anak nakal. Maapkeun ya.
Karena tidak tahu perkampungan Bajo itu dimana, saya bertanya pada penduduk lokal, darimana saya bisa mendapat perahu untuk melihat pemukiman suku Bajo yang ada di tengah laut. Setelah ditunjukkan jalannya, saya gowes sepeda sekencang-kencangnya dan dalam 15 menit saya tiba di suatu tempat dimana banyak kapal-kapal kayu bersandar. Karena masih terlalu pagi, tidak ada siapa-siapa disana. Lah, ini gimana caranya mau lihat rumah suku Bajo kalau enggak ada perahu? batin saya dalam hati. Celingak-celinguk sana sini, akhirnya ada seorang pria muda datang membawa ember yang setelah berkenalan saya ketahui namanya Agus.
Parkiran perahu suku Bajo yang sudah tinggal di darat.

Perahunya sederhana sekali ya

Ternyata, Bang Agus sedang mengangkut pasir yang dia keruk dari pulau kecil dan dijual di Wangi-wangi. Badannya yang kekar dan berkulit legam menunjukkan bahwa dia adalah lelaki pekerja keras. Sebenarnya mata pencaharian utama Bang Agus (dan hampir seluruh masyarakat Bajo) adalah nelayan. Tetapi Bang Agus juga mencari pendapatan tambahan dengan berjualan pasir. Keren banget! 
Bang Agus bertanya apa tujuan saya datang kesitu dan saya jawab jujur kalau saya mau lihat rumah suku Bajo di atas laut dari dekat. Abang Agus tertawa tetapi dengan baiknya dia bilang “Oke, kalau pasirnya sudah selesai saya angkut, saya antarkan kamu keliling sekalian saya mau kembali ke pulau sana untuk ambil pasir”. Dengan polosnya saya bilang, “Bayar berapa Bang? Saya cuma bawa duit sedikit” dan direspon “Hahahaha, siapa bilang suruh bayar? Gratis, gratis” ujar Bang Agus sambil tertawa. Ah, terima kasih Tuhan, Kau pertemukan aku lagi dengan orang baik di perjalanan ini. 🙂
Bertemu dengan Bang Agus, si pedagang pasir yang baik hati
Selang beberapa menit, Bang Agus sudah selesai dan mengajak saya naik ke atas perahu kayu kecil yang punya satu mesin. Tapi Bang Agus tidak sendiri. Dia membawa temannya yang bernama Bang Arif yang duduk di bagian depan perahu, saya di tengah dan Bang Agus di bagian belakang. Bang Arif mengeluarkan tongkat kayu panjang dan segera mengayuh perahu hingga mesin kapal bisa dinyalakan. Kami berkeliling di antara rumah-rumah suku Bajo selama 30 menit. Sambil berkeliling, saya diceritakan sejarah suku Bajo sama Bang Agus. Bang Arif yang duduk di depan sangat pemalu dan hampir tidak bersuara selama perjalanan.
Abang Agus 🙂
Langit cerah, laut tenang, hangatnya matahari pagi menyentuh kulit. Pagi yang indah, sempurna. Saya terkagum-kagum dan makin cinta sama negeri ini. Di dalam hati, saya tak henti-hentinya mengucap syukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan hingga saya bisa berada di Wakatobi. Sesekali kami berpapasan dengan masyarakat Bajo dan mereka melambaikan tangan dengan gembira. Satu-satunya transportasi mereka adalah perahu dan anak kecil sudah dilatih mendayung dari umur 5 tahun. Keren banget! Masyarakat suku Bajo mayoritas beragama Islam, tetapi mereka juga masih mempercayai dukun, pengobatan tradisional.

Selain rumah-rumah, di atas laut juga didirikan tambak ikan.
Anak kecil diberi pengaman pintu agar tidak jatuh ke laut
Mau pergi kemanapun, ya harus pakai perahu.

Rumah suku Bajo di Wakatobi ini beragam, ada yang besar dan kecil. Ada yang berdiri tegak, ada juga yang kelihatan miring dan hampir rubuh. Tentu saja hal itu berkaitan dengan taraf ekonomi masyarakat Bajo. Semakin kaya ya semakin bagus dong rumahnya. Biasanya satu rumah ditempati 2 – 6 keluarga. Wow, banyak juga ya ternyata. Saya juga menemukan banyak rumah yang kurang layak untuk ditinggali.

Lihat deh rumah sebelah kanan. Kasihan ya 🙁
Rumah yang ini juga hampir rubuh 🙁

Tak terasa, kami sudah mendekati daratan. Saya mengucapkan terima kasih yang tiada habis-habisnya pada Bang Agus. Sayang, dia tidak punya nomor telepon / handphone yang bisa saya hubungi jika saya kembali lagi ke Wakatobi suatu hari nanti. Percaya aja deh kalau berjodoh pasti bertemu lagi (bukan jodoh jadi suami tapi ya). 
Saya mengambil sepeda dan mengayuh sekencang-kencangnya agar cepat tiba di kapal KRI Makassar 590, kapal markas TNI AL yang membawa kami berlayar di Sail Wakatobi ini. Jam 7 pagi, saya sudah duduk manis untuk makan pagi di ruang makan. Tidak ada yang tahu saya keluar pagi-pagi selain perwira yang saya pinjam sepedanya dan petugas jaga kapal pagi itu. Hehehehe. Hari itu saya senyum-senyum seharian. Puas. Kapal kami bertolak menuju Makassar. Sampai jumpa Wakatobi, aku pasti datang lagiiiiiii 🙂

Happy Travelling ya!
Enjoy Indonesia!

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.