Kuliner Singkawang yang Bikin Lidah Bergoyang

Ngomong-ngomong tentang plesiran ke suatu tempat, mencicipi kuliner khas agaknya wajib masuk dalam rencana perjalanan. Iya nggak sih?

Kan sayang ya kalau ditanya sama teman, “Eh, kamu pernah ke kota ini kan? Makanan yang enak apa saja?”.

Lah ya bingung jawabnya kalau belum mencicipi sendiri toh.

Kunjungan saya dan teman-teman ke Kota Singkawang beberapa waktu silam dipenuhi dengan makan, makan dan makan. Kota yang dijuluki ‘Kota Seribu Klenteng’ atau ‘Kota Amoy’ ini punya ragam kuliner lezat yang sayang untuk dilewatkan.

  1. Bubur Paddas

    “Beneran pedas nggak?” tanya seorang teman yang melihat saya menyantap bubur berwarna keabu-abuan ini (biasanya kan bubur warna putih ya!).

    Buat saya yang penyuka pedas, bubur ini tidak ada pedas-pedasnya, tidak seperti namanya. Malahan rasanya gurih dan sedikit asam karena perasan ‘jeruk asam’ atau ‘jeruk kecil’.

    Bubur Paddas Kuliner Singkawang
    Bubur Paddas

    Bubur ini dicampur dengan kaldu, jagung, pakis, kangkung, toge, dan ditaburi kacang tanah dan ikan teri. Paduan rasa asam dari jeruk dan asin dari ikan teri inilah yang membuat bubur ini terasa gurih. Penampilan Bubur Paddas agak sedikit mirip dengan Bubur Tinutuan khas Manado karena banyak sayurannya tapi rasanya jauh berbeda.

    Es Shanghai Singkawang
    Es Shanghai

    Tidak terlalu banyak kedai yang menjual Bubur Paddas karena memang ini menu khas rumahan. Kami sempat mencoba di Rumah Makan Benareh di samping Bank Mandiri Singkawang. Kami santaplah Bubur Paddas dengan Es Shanghai yang besar dan segar.

    Nyam nyam nyam… Cocok sekali untuk udara Kota Singkawang yang panas.

  2. Mie Tiaw Asu

    Waktu saya mengunggah foto Mie Tiaw Asu ini di akun sosmed saya, banyak yang bilang ngiler namun juga mempertanyakan apakah Mie Tiaw ini halal atau tidak. Pertanyaan yang wajar sekali karena Singkawang ini didominasi kuliner Tionghoa alias non-halal.

    Tapi tenang saja, Mie Tiaw Asu ini halal kok karena kita bisa lihat Asu (Paman) memasak langsung Mie-nya di bagian depan kedai.

    Mie Tiaw Asu Kuliner Singkawang
    Asu (paman) sedang memasak Mie Tiaw di depan warungnya

    Kami juga mampir ke tempat ini karena saran driver kami yang juga seorang Muslim. Dia dengan yakin bilang Mie Tiaw ini halal. Kami pun tancap santap Mie Tiaw yang kata Bang Rio (driver kami) paling enak di kota Singkawang.

    Dapurnya ada di bagian depan sehingga saat masuk, kami bukannya duduk melainkan memperhatikan Asu memasak Mie Tiaw yang wanginya membuat air liur menetes.

    Bentuk Mie Tiaw ini berbeda dengan mie atau kwetiau, berwarna kuning, tidak terlalu tipis tekstur mie-nya. Ditaburi toge yang melimpah (orang Singkawang suka banget sama toge), Mie Tiaw yang masih mengebul panas dikucuri dengan perasan jeruk kunci, siap untuk disantap.

    Mie Tiaw Asu
    Mie Tiaw Asu

    Rasanya?

    Bingung mendeskripsikannya karena buat saya Mie Tiaw ini enak banget! Mie Tiaw Asu ini lokasinya di Jalan Yos Sudarso. Coba saja tanya orang lokal Singkawang, pasti mereka tahu.

  3. Bubur Gunting

    Agaknya Singkawang ini juga bisa dapat julukan ‘Kota Bubur’, sangking banyaknya varian bubur yang bisa kita santap (masih ada bubur-bubur berikutnya).

    Bubur Gunting khas Singkawang
    Bubur Gunting

    Salah satu favorit kami adalah Bubur Gunting, bubur yang terdiri dari kacang hijau yang sudah dikupas, dicampur dengan air gula, tepung kanji yang kental, daun pandan dan cakwe kering yang digunting kecil-kecil. Cakwe yang digunting inilah yang membuat kuliner ini dikenal dengan nama ‘Bubur Gunting’.

    Gerobak Bubur Gunting
    Tidak ada kedai khusus yang menjual Bubur Gunting. Pun kami menemukan bubur ini dijual di gerobak kecil yang ada di tepi jalan, di bawah pohon besar. Bubur Gunting biasanya disantap untuk makan pagi. Jadi kita bisa menjumpainya dari jam 8 pagi hingga 12 siang.

  4. Bubur Tahu

    Nah! Bubur lagi kan!

    Saya sebagai pecinta tahu, langsung senang sekali begitu mencicipi bubur tahu. Yang pertama menemukannya adalah Sefin, sewaktu kami blusukan ke Pasar Turi (pasar tradisional di Singkawang) pagi hari.

    Bubur Tahu Singkawang
    Bubur Tahu Singkawang

    Tekstur tahunya benar-benar lembut, disiram dengan rebusan jahe yang hangat. Enak banget disantap pagi-pagi. Sama seperti Bubur Gunting, Bubur Tahu ini disantap untuk sarapan sehingga kita tidak akan bisa menemukannya di atas jam 10 pagi.

    Lokasi gerobak Bubur Tahu ini ada di depan kedai Bubur Babi Aloy. Tanya saja pada orang lokal, mereka pasti tahu dimana bubur tahu!

  5. Mie Kering Haji Aman

    Buat yang pengin menyantap Bakmi yang pasti halal, cobain Mie Kering Haji Aman aja. Jelas-jelas dari judulnya sudah terbukti makanan yang dijual, halal. Meski baru dibuka tahun 2010, Mie Kering Haji Aman ini menjadi favorit masyarakat Singkawang.

    Mie Kering Haji Aman
    Mie Kering Haji Aman

    Kami mencicipi Bakmi Spesial yang terdiri dari Bakmi Kering, bakso sapi, daging sapi, potongan daging ayam, tahu, toge, cakwe, dan suwiran telur dadar. Harga satu porsinya Rp 25.000,- saja. Untuk Bakmi biasa, harganya berkisar Rp 13.000,- sampai dengan Rp 18.000,-. Bersahabat di kantong kan?

    Mie Basah Haji Aman
    Jika tidak terlalu suka kering, disajikan semangkok kuah kaldu yang lezat untuk disiram ke atas Bakmi Kering.

    Buat saya, kering atau basah sama saja enaknya!

  6. Bubur Babi

    Kalau yang ini jelas-jelas makanan non-halal ya dari judulnya.

    Mata saya berbinar-binar saat memasuki kedai Bubur Babi Aloy yang ada di Pasar Turi. Riuh orang-orang berbicara dalam bahasa Tionghoa, membuktikan tempat ini juga menjadi tempat favorit masyarakat lokal untuk sarapan pagi.

    Bubur Babi kuliner khas Singkawang
    Bubur Babi

    Yang membuat saya makin kegirangan adalah Bubur Babi ini disajikan dengan telur setengah matang. Porsinya besar dan dihargai Rp 18.000,- saja per mangkuknya. Karena saya masih ingin mencicipi makanan yang lain, saya mengurungkan untuk menyantap dua mangkok untuk memberikan ruang kepada perut saya (tapi minta telornya ditambah dua, hehehe).

    Ada banyak kedai Bubur Babi di Singkawang. Salah satu yang favorit katanya Bubur Babi Ajie, namun belum sempat saya cicipi.

    Ini sebenarnya adalah kode untuk kembali lagi ke Singkawang, ya!

  7. Rujak Ebi

    Pecinta rujak pasti senang mencicipi Rujak Ebi ini. Tidak terlalu berbeda dengan rujak pada umumnya, hanya ditambahkan serutan ebi kering di atasnya.

    Rasanya jadi gurih. Enak disantap di siang hari yang terik!

    Rujak Ebi
    Rujak Ebi Singkawang
  8. Bakso 68

    Ini dia yang tidak sempat kami cicipi karena antriannya ‘ampun’ sekali.

    Maklum, saat weekend dan Festival Cap Go Meh di Singkawang, tempat ini padat sekali. Saat kami datang, sudah banyak orang yang mengantri di depan kedai.

    Bakso 68 Singkawang
    Kedai Bakso 68

    Teman saya yang sudah pernah kesana tahun lalu mengatakan dia menunggu selama 1 jam untuk mendapatkan tempat duduk dan 1 jam untuk menunggu hingga hidangannya datang. Wah, memang terkenal sekali ya.

    Jadi, meski saya tidak sempat mencicipi, saya tetap memasukkan Bakso 68 ini ke daftar kuliner yang wajib dicoba di Singkawang.

    Beritahu saya nanti bagaimana rasanya ya, beneran enak atau tidak.

  9. Choi Pan

    Hmmmm, kalau kuliner yang satu ini, banyak ditemui di setiap pojok Kota Singkawang.

    Choi Pan Singkawang
    Choi Pan

    Choi Pan yang lezat juga bisa kita temui di Pontianak. Makanan satu ini terbuat dari tepung beras yang diisi dengan bengkuang yang diiris tipis dicampur dengan udang, ayam, ikan atau babi. Di atasnya ditaburkan bawang putih yang digoreng.

    Lezat sekali disantap saat baru selesai dikukus. Nyam!

  10. Limun Khas Singkawang

    Bukan makanan tapi minuman. Minuman bukan sembarang minuman. Ini Limun, Bung!

    Limun Singkawang
    Saya serasa kembali ke masa SD ketika masih sangat mudah menemukan limun aneka rasa di depan gerbang sekolah. Senang sekali ketika saya menemukannya di Singkawang, tepatnya di Kedai Mie Tiaw Asu. Masih dikemas dalam botol kaca, limun khas Singkawang ini tersedia dalam tiga rasa, Jeruk, Pisang Ambon dan Sarsaparila.

    Cukup membayar Rp 9.000,- kita bisa membeli limun dengan botolnya. Kalau nggak pakai botol, harganya Rp 8.500,-. Beda Rp 500,- saja!

  11. Es Nona

    Selain Limun dan Es Shanghai, jajanan es yang saya suka adalah Es Nona yang dijual memakai gerobak oleh seorang Paman yang ceria.

    Es Nona Kota Singkawang
    Waktu itu kami sedang menyusuri toko-toko di ruas jalan Singkawang. Ketika kami kegerahan dan ingin minum yang segar, si Paman gerobak Es Nona ini lewat. Pucuk di cinta, ulam pun tiba.

    Satu gelas Es Nona ini dihargai Rp 10.000,-. Isinya tape, pacar cina, roti, susu kental manis. Enak!

    Es Nona khas Singkawang
    Es Nona [Photo by: Teh Nita Sellya]

Ragam makanan dan minuman Kuliner Singkawang yang saya ceritakan di atas, dijamin membuat lidah bergoyang. Rasa yang memanja. Saya tidak sabar untuk kembali lagi ke Singkawang untuk mencicipi kuliner-kuliner lain yang belum sempat dicoba.

Ada yang pernah ke Singkawang? Kuliner apa lagi ya yang patut dicoba? Tulis di kolom komentar di bawah ya.

***

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman travel blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Singkawang. Harga yang tertera adalah saat kunjungan Feb 2016.

#PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts