Mendaki Gunung Merbabu via Suwanting, Jalur dan Pemandangannya Sinting

41

“Kenapa milih jalur Suwanting, Sat?” tanya seorang teman yang saya beritahu ketika saya mau naik Gunung Merbabu.

“Hmmm karena menarik sepertinya jalur ini”, jawab saya, meski dalam hati agak deg-degan juga karena jalur ini katanya sulit. Kondisi lengan kanan saya yang patah dan masih pakai pen membuat saya harus hati-hati benar dalam memilih jalur naik gunung. Sebenarnya dokter saya tidak menyarankan saya sama sekali untuk naik gunung selama masih ada pen di badan saya. Resiko terpeleset-nya besar dan bisa membuat saya lebih parah lagi kondisi tangannya.

Tapi ya gimana ya, sudah kadung cinta naik gunung nih. Maafkan aku ya Pak Dokter-ku yang baik hati dan manis.

Oke, kembali ke perencanaan mendaki Gunung Merbabu via Suwanting.

Untuk mendaki Gunung Merbabu sebenarnya ada beragam pilihan jalur; Selo, Wekas, Gancik, Chuntel, Thekelan dan Suwanting.

Lalu kenapa memilih Suwanting?

Karena katanya meski pun sulit jalur ini menawarkan pemandangan yang we-o-we (WOW!). Ronny yang duluan melakukan riset lalu tertarik sama jalur ini dan akhirnya memutuskan kami akan mendaki via Suwanting.

Saya mah ikut aja, easy anaknya.

 

Bagaimana cara ke Suwanting?

Saya menemukan kontak Mas Ambon, orang basecamp Suwanting, dari salah satu blog yang saya baca. Saya lupa alamat blog yang mana, tapi yang jelas terima kasih ya untuk kamu yang menulisnya.

Saya menyapa Mas Ambon via jejaring whatsapp dan Mas Ambon dengan ramah menjabarkan jalur Suwanting itu seperti apa. Kalau dari peta yang ada, jalur ini konturnya tipis-tipis alias terjal. Bahkan saya sempat membaca satu artikel pendakian ke Gunung Merbabu via Suwanting yang bilang kalau jalur ini bisa bikin pengen gantung sepatu gunung atau cuti naik gunung. Hahahaha

Kami berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta lalu Suwanting. Mas Ambon akan menjemput kami di Bandara, namun karena saya sudah tiba duluan di Jogja, Mas Ambon menjemput saya dulu di kota baru Ronny. Karena kami memilih mendaki di minggu terakhir bulan puasa, yang artinya arus mudik sudah dimulai, perjalanan kami dari Yogyakarta ke Suwanting terkena macet parah. Biasanya cuma dua setengah jam jadi hampir 5 jam (dua kali lipatnya). Kami tiba di basecamp Suwanting (rumah Mas Ambon) hampir pukul 12 malam. Untuk biaya transportasi PP dari Jogja kami membayar Rp 900.000,-. Sebenarnya bisa dibagi 8 orang tapi saat itu kami cuma berdua saja dan tak ada pendaki lain. Ya namanya juga resiko mendaki saat bulan puasa ya, nggak banyak teman untuk share cost.

“Cuma segini saja Mbak Satya kamarnya, seadanya. Menjelang pagi biasanya dingin banget, kalau mau Mbak Satya sama Mas Ronny bisa tidur di tenda yang ditaruh di atas kasur biar hangat dan empuk”, ujar Mas Ambon begitu kami tiba di basecamp Suwanting alias rumahnya sendiri.

Saya tertawa mendengarkan Mas Ambon dan mengucapkan banyak terima kasih sudah diberikan tumpangan satu malam sebelum kami mendaki keesokan harinya. Saya dan Ronny mengeluarkan sleeping bag masing-masing dan langsung tertidur pulas. Lumayan melelahkan juga perjalanan malam itu jadi mari istirahat yang cukup.

Pagi harinya, meski masih puasa, istri Mas Ambon dengan baik hati menyiapkan Nasi Goreng dengan telur ceplok, kerupuk serta teh manis hangat untuk jadi santapan kami. Pukul setengah 9 kami registrasi dulu di pos. Saya membayar Rp 17.500 sebagai wisatawan domestik dan Rp 160.000 untuk Ronny sebagai wisatawan asing.

Foto di warung Mas Ambon
Sebelum berangkat, mari foto dulu di depan warung Mas Ambon…

Sebelum kami benar-benar memulai pendakian, Mas Ambon menjelaskan jalur pendakian Suwanting karena kami hanya akan mendaki berdua saja. Dia menjelaskan setiap kelokan tanjakan agar kami tidak tersesat, tiba di camp, puncak dan kembali ke rumah dengan selamat.

Kami memulai pendakian dari basecamp ke pintu hutan jam 9 pagi. Sebenarnya agak kesiangan dari jadwal yang kami rencanakan tapi yawis nggak apa-apa karena bisa dapat jadwal istirahat yang cukup sebelum mendaki.

Dari basecamp ke pintu hutan memakan waktu kurang lebih 15 menit. Dari depan rumah Mas Ambon (basecamp) saja jalannya sudah mendaki terus. Ya anggap saja pemanasan ya (pemanasan yang sangat panas tentunya).

Dari pintu rimba tak terlalu jauh menuju Pos 1 (Lembah Lempong) sekitar 15 menit juga. Pemandangannya cantik, dikelilingi “Cemoro” atau pohon pinus.

Pintu Rimba
Pintu Rimba dilengkapi dengan papan informasi jalur. Biar ada bayangan pendakiannya seperti apa.
Hutan Pinus
Pos 1 masih didominasi pohon pinus, ademmm.. banget pas lewat jalur ini.

Dari pos 1 menuju pos 2, ada beberapa titik yang akan dilewati ; Lembah Gosong, Lembah Cemoro, Lembah Ngrijan dan Lembah Miloh. Di jalur Suwanting kita akan menemukan 3 pos air. Satu pos air yang ada di Lembah Cemoro. Bentuknya hanya gentong air yang dialiri pipa kecil. Kemudian di antara Pos 2 menuju pos 3 ada pos air namun saat kami di sana kemarin kosong. Yang terakhir ada di titik 15 menit sebelum mencapai pos 3. Saya dan Ronny masing-masing membawa satu botol air 1,5 L plus botol 1L saja karena bisa diisi ulang di jalur. Maka daripada itu, jalur Suwanting ini disukai karena ada air di sepanjang jalurnya. Ya, disukai yang senang tantangan tentunya karena mari kita membicarakan soal tanjakannya.

Dari Pos 1 ke Pos 2, jalur tanjakannya memang sudah cukup terjal namun karena vegetasi masih lebat, semacam tidak terlalu terasa beratnya (padahal berat juga) karena adem. Sepanjang mendaki dari Pos 1 ke Pos 2 itu kabut turun jadi terasa dingin jadi kami tak pernah berhenti lama. Hanya minum seteguk lalu berjalan lagi.

Kami tiba tepat pukul 12 siang di Pos 2 yang artinya makan waktu 1,5 jam dari Pos 1.Karena tepat jam makan siang, kami berhenti untuk makan dan yang terpenting, tidur. Hahaha. Kami berdua tipikal pendaki santai, jadi ya habis makan siang, tidur dulu sebentar dan tak terasa sudah 1,5 jam lebih kami beristhirahat di Pos 2. Kebablasan tidur.

Dari Pos 2 ke Pos 3 harus saya akui jadi salah satu jalur terberat yang saya pernah lewati selama karir ((KARIR)) mendaki gunung. Jalur ini benar-benar menguras mental siapa pun yang melewatinya. Saya sendiri harus berujar berkali-kali ke kaki saya sendiri “ayo berjalan, ayo jalan, hei kaki” saking beratnya jalur itu. Jalur di mana ketika kau bukan sekedar lagi mendaki tapi memanjat, di mana lutut ketemu jidat.

Jalur Merbabu
Jalur dari Pos 1 – Pos 2. Hampir sedikit lagi sampai Pos 2.
Pos Bendera Merbabu
Maaf ya ini ngasal banget ambil fotonya udah capek haha. Di tempat Ronny duduk itu kita tidur siang pas berangkat dan pas perjalanan turun.
Tanjakan Pos 2 dan Pos 3
Tanjakan Pos 2 – Pos 3, begini saja terus nggak habis-habis. Hahaha..
Jalur Merbabu Berbatu
Kebayang sih jalur ini pasti licin sekali sewaktu hujan. Syukurnya kami tidak diguyur hujan selama pendakian. Nah, itu kelihatan kan tali untuk membantu pendaki?

Di beberapa titik curam menuju Pos 3 ada jalur di sebelah kanan yang lebih empuk di kaki dibandingkan jalur tanah yang curam. Apalagi kemarin jalurnya sedang kering-keringnya, berdebu dan licin. Ada beberapa tali yang sudah disiapkan sebenarnya untuk membantu para pendaki. Nggak kebayang sih kalau mendaki via Suwanting saat hujan, pasti lebih licin lagi dan harus jauh lebih ekstra hati-hati mendakinya.

15 menit sebelum mencapai Pos 3 ada Pos Air di sebelah kiri. Kami tiba sekitar jam 16.30 itu artinya butuh waktu 3 jam untuk sampai di Pos 3 dari Pos 2. Agak susah mencari lokasi camp karena angin bertiup kencang sekali dan camp 3 ini lokasinya terbuka. Tidak ada siapa-siapa ketika kami tiba di sana.  Akhirnya Ronny memutuskan untuk mendirikan tenda di titik di mana kami bisa melihat Gunung Merapi dengan jelas. And there it is

Gunung Merapi dari Merbabu
Melihat Merapi menjulang gagah dari depan tenda itu bikin bahagia.
Sunrise Merbabu
Dan semakin sore, langitnya berubah warna…
Golden Sunset Merbabu
Makin cantik saat rona jingga, ungu dan merah muda mulai menghiasi atas langit dan Merapi.

Kebayang kan susahnya bangun tenda ketika angin bertiup sekencang-kencangnya. But hey it was fun. Seru juga!

Bagian terbaik dari hari itu selain ngecamp tanpa ada orang lain di sekitaran adalah, kami mendapatkan senja terbaik di atas gunung yang pernah saya lihat. Mungkin melihat sunrise dari puncak gunung itu hal yang biasa. Tapi sunset? Itu adalah pemandangan yang belum tentu kita bisa nikmati setiap mendaki gunung kan. It was a very special moment especially when you can share it with your loved one. 

Lautan Awan Merbabu
Sunset di atas awan…. Kalau lihat langsung pasti sampai tidak bisa berkata-kata…

Sehabis memasak dan menyantap makan malam, kami yang sudah sangat kelelahan langsung tertidur. Ronny sudah set-up tripod-nya untuk memotret milky-way namun sayangnya malam itu langit berawan tebal jadi bintang-bintangnya tidak terlihat. Nggak apa-apa toh di luar anginnyaa dingin dan kencang sekali. Lebih enak bergelung di dalam sleeping bag kan.

Saya tertidur dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Luar biasa “kebo”-nya. Sepanjang malam kami tidur dengan tenda ‘menampar’ muka kami. Benar-benar ditampar karena angin yang luar biasa kencangnya. Terbayang sih kalau tidak ada orang di dalam tenda sebagai pemberat pasti tenda kami sudah terbang. Saya juga heran kenapa saya bisa tidur pulas 12 jam dengan angin ribut besar di luar. Hahahaha

Keesokan pagi sekitar jam 6, Ronny, si morning person itu tentu sudah bangun dan sambil ngulet-ngulet bertanya apakah kami mau melanjutkan ke puncak dengan angin masih bertiup gila.

Ya iyalah. Sudah sampai di Camp 3 hanya butuh 2 jam lagi mendaki ke puncak. Apalagi cuaca cerah ya sebenarnya. Ya tentu harus  lanjut jalan meski anginnya kencang. Masih angin saja bukan hujan badai. Jadi kami putuskan untuk sarapan dan packing termasuk tenda agar tidak terbang dan hilang.

Whuooooooo…. Ampun anginnya…

Bayangkan, badan sebesar saya bisa tergeser karena angin yang bertiup. Terbayang kan sekencang apa. Dan saat sudah berada di atas ketinggian 2600 mdpl, bernafas kan susah sekali ditambah angin kencang, makin-makin deh luar biasa perjalanan menuju ke puncaknya.

Kami hanya membawa satu daypack kecil yang isinya air minum, beng-beng dan kamera. Nggak usah bawa carrier berat kecuali mau lintas jalur.

Sabana Merbabu
Pemandangan Sabana menuju puncak Gunung Merbabu.

Tanjakan Hijau Merbabu

Pemandangan Trek Merbabu

Gunung dan Lautan Awan Merbabu

Turunan Merbabu

Meninggalkan Puncak Merbabu

Tapi ya pemandangannya Sabana 1, Sabana 2 dan Sabana 3 sebelum sampai di Puncak Suwanting memang amboi, aduhai cantiknya. Saya biarkan Ronny jalan duluan karena saya masih mau menikmati Sabana-nya, duduk berlama-lama.

Foto Sepatu Merbabu

Dan akhirnya sampai ke puncak…

Total waktunya 1 jam 45 menit. Kalau tidak pakai duduk bengong mungkin akan lebih cepat ya. Tapi esensi naik gunung itu kan menikmati view-nya. Begitu di puncak ada dua titik, Puncak Triangulasi dan Puncak Kenteng Songo.

Buat yang sudah pernah ke Gunung Merbabu, menurut kalian puncak mana yang lebih tinggi. Kalau saya sih Puncak Triangulasi ya, tapi banyak yang bilang yang tertinggi itu Kenteng Songo. Tapi tetap buat saya Triangulasi yang tertinggi.

Puncak Merbabu
Nggak ada siapa-siapa waktu kami tiba pertama kali, namun tak berapa lama banyak pendaki yang menyusul ke puncak.
Puncak Triangulasi Merbabu
Terima kasihhhhh Ronny sudah menemani naik Merbabu! Kamu batu!

Di puncak kami bertemu dengan beberapa pendaki yang mendaki via Selo dan Wekas. Senang juga akhirnya bertemu manusia lain di gunung hahahaha

Kami berjalan turun dari puncak dan tiba jam 9.45 di camp 3, repacking dan jalan turun sekitar pukul 10.11. Perjalanan turun jauh lebih menantang dibandingkan saat naik. Ketika turun, kemungkinan tergelincir di jalur sangatlah besar jadi tiap langkah benar-benar harus mantap, tidak boleh ragu-ragu karena pasti jatuh. Peluh sebesar bulir jagung terus membasahi dahi saya karena capek dan juga gugup. Saya tidak pernah segugup itu saat turun gunung. Dan ketika sudah sampai di Pos 2 baru saya merasa lega karena jalur terberat sudah lewat.

Foto Puncak Gunung di Jawa Tengah

Kami kembali beristhirahat di Pos 2 dan tidur lagi. Hahahahaha… Memang enak ya tidur di jalur itu kadang-kadang. Asal ingat untuk pakai jaket agar suhu badan tidak drop.

Total waktu yang kami butuhkan untuk turun sekitar 4 jam, sebenarnya 3 jam kalau tidak termasuk tidur 1 jam di Pos 2. Mas Ambon kaget karena jam setengah 3 sore kami sudah tiba di basecamp. Ya karena kami harus mengejar penerbangan ke Jakarta jam 8 malam, kami harus berangkat dari basecamp Suwanting sebelum jam 5 sore agar tidak terlambat.

Karena tiba lebih cepat dari yang kami perkirakan, kami masih punya waktu untuk mandi dan makan mie goreng pakai telor. Kalau bukan karena bakal terbang naik pesawat, saya pasti memilih nggak mandi. Airnya sedingin es di Desa Suwanting. Ampun dinginnya. Tapi dari pada orang mengernyit padamu sepanjang perjalanan, ya harus mandi kan ya. Tahan deh sakitnya itu air dingin.

Ah, terima kasih banyak Gunung Merbabu untuk jalur pendakian dan juga pemandangan yang kau berikan, ‘sinting’ bagusnya. Saya pasti akan kembali lagi, tapi tidak dalam waktu dekat ya. *elus-elus dengkul*

Keluarga Mas Ambon Merbabu
Mas Ambon, istrinya yang baik hati dan anak lanangnya yang cakep!

***

Sedikit catatan pendakian Gunung Merbabu

  1. Untuk para pendaki weekend-ers dari Jakarta bisa lho terbang dari Jakarta ke Jogja jumat malam, lalu menginap di Basecamp Suwanting, mendaki Gunung Merbabu dan pulang terbang ke Jakarta hari Minggu malam.
  2. Jalur Suwanting ini plusnya memang banyak air hampir di tiap pos. Tapi harus dipertimbangkan bahwa pendaki pemula untuk tidak memilih jalur ini. Bagus sih buat latihan mental tapi ya… siap-siap saja ya.
  3. Ini kontak Mas Ambon Suwanting jika kalian butuh ya. Baik banget Mas Ambon ini jadi kalau kalian ke tempatnya, sampaikan salam dariku ya. 0878-3430-6869 atau 0858-6543-5969
  4. Untuk mendaki via Suwanting ini, usahakan bawa beban yang tidak terlalu berat ya. Bawa makanan yang praktis saja dan peralatan yang ringan. Cukup membantu biar tidak terlalu kelelahan di jalur.
  5. Pakai sepatu sangat dianjurkan untuk mendaki via Suwanting (sebenarnya di semua gunung juga disarankannya pakai sepatu ya) karena jalurnya menanjak dan cukup terjal.
  6. Kalau mau naik transportasi umum, saya dapat info dari blog Hilmi soal perjalanannya ke Gunung Merbabu via Suwanting juga. Dari Terminal Giwangan bisa naik bus kecil jurusan Magelang / Semarang dan turun di perempatan Blabak. Dari perempatan Blabak itu minta dijemput orang basecamp Suwanting. (Kurang lebih sama seperti saya tapi jadinya lebih murah ya ongkosnya).

Cerita dan pengalaman Pendakian ke Gunung Merbabu dalam artikel ini saya lakukan medio Juni 2018, mungkin ada beberapa informasi terkait pendakian tidak update dan mungkin tidak relevan lagi saat ini. Namun, semoga pengalaman saya ini bermanfaat buat semua, ya!

Cheers

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts