Menyapa Lagi Larantuka, Kota Reinha Rosari

4

“Prepepepepepepepep”

Bunyi riuh kapal menghampiri garis pantai Larantuka, tempat saya sedang menikmati pagi. Seorang Bapak turun dengan membawa beberapa renteng ikan segar hasil tangkapan dari melaut semalaman. Ikan sunu berwarna merah segar dihargai Rp 35.000 satu ikat dan ikan kakap hitam dihargai Rp 200.000 per ekor. Beberapa orang bapak sudah menunggu untuk membeli ikan, lengkap dengan helm yang masih terpasang di kepalanya.

Nelayan bawa ikan

Satya bawa ikan
Pak Tinus dan saya yang bahagia dapat ikan segar…

Baru saja bulan Maret lalu saya menyambangi Larantuka, kota yang ramai dengan peziarah dari seluruh dunia saat “Semana Santa”. Saat itu terucap doa agar bisa kembali ke kota ini segera. Siapa sangka hanya dalam waktu dua bulan, saya kembali lagi ke sana berkat undangan Daihatsu Indonesia dalam rangka #Terios7Wonders dan Tour de Flores 2016. Bahagia? Tak terkira.

Mobil Terios

Selama berada di Larantuka, kami berkunjung ke tiga kapel utama, Kapel Tuan Ma, Tuan Ana dan Tuan Meninu. Tuan Ma adalah sebutan untuk Bunda Maria, Ibu Tuhan Yesus, Tuan Ana adalah Tuhan Yesus dan Tuan Meninu adalah kanak-kanak Yesus. Kapel tertua adalah Kapel Tuan Ma, yang diinisiasi oleh Raja Larantuka pertama, Ola Adobala Diaz Viera De Godinho. Di dalamnya, tersimpan patung perempuan berkulit putih berjubah biru dengan muka sendu, yang dikenal dengan patung Tuan Ma, Mater Dolorosa, Bunda Maria berduka cita.

Larantuka pinggir laut

Bunda Maria
Goa Maria di Kapel Tuan Meninu (Photo by : Rynol Sarmond )
Kapel Tuan Meninu
Di dalam Kapel Tuan Meninu (Photo by : Rynol Sarmond )

Ada dua versi cerita tentang kemunculan patung Tuan Ma ini. Versi pertama, dahulunya ada seorang pemuda bertemu dengan wanita yang berparas sangat cantik, berkulit putih bersih dan bercahaya, menyapa dengan Bahasa yang tidak dimengertinya. Pemuda itu kebingungan lalu pergi melapor kepada Raja Larantuka dan saat ia ingin menunjukkannya kepada Raja, perempuan itu telah berubah wujud menjadi patung. Patung wanita cantik itu kemudian disimpan di balai raja dan akhirnya diketahuilah bahwa itu adalah patung Bunda Maria, sejak misionaris Portugis datang menyebarkan agama Katolik di Larantuka.

Kapel Tuan Ma
Kapel Tuan Ma

Versi kedua adalah, ada seorang pemuda yang menemukan satu patung wanita berjubah biru dengan muka sendu, terdampar di bibir pantai. Diyakini bahwa patung ini berasal dari kapal misionaris Portugis yang karam di perairan sekitar Flores. Nah, kalian percaya cerita yang mana? Versi pertama atau versi kedua?

Karena kami datang di bulan Mei, bertepatan dengan bulan Rosario, semua kapel dibuka untuk umum untuk berdoa. Saya teringat dengan masa-masa saya berziarah sendiri ke kota ini meski (sayang sekali) tidak bisa mengikuti prosesi Semana Santa yang sudah dilaksanakan sejak 500 tahun yang lalu. Dan lalu saya berjanji akan kembali lagi di perayaan Paskah tahun depan. Saya sedikit terkekeh ketika Pak Wempi, penjaga kapel Tuan Ma, terkejut melihat saya datang lagi.

Pak Wempi
Pak Wempi, penjaga Kapel Tuan Ma.

“Katanya Satya mau datangnya tahun depan, eh baru dua bulan kok sudah di sini lagi?” ujarnya dan lalu saya balas dengan terkekeh lagi.

Kapel Tuan Ana
Kapel Tuan Ana

Satya kapel ana

Kapel Tuan Meninu
Kapel Tuan Meninu

Selain berkeliling ke tiga kapel utama di Larantuka, rombongan kami juga menyambangi pekuburan. Senang sekali di trip ini saya bertemu dengan Mas Iqbal Kautsar yang juga pencinta kuburan. Sampai-sampai kami membuat project #TravellingKuburan di Instagram (check it out!).

Kompleks Pekuburan di Larantuka
Kompleks Pekuburan di Larantuka

Makam Pinggir Laut

Makam Larantuka

Hari sudah sore ketika kami tiba di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Gereja ini dulunya dikenal dengan nama Gereja Besi. Ibu Germana, salah satu penduduk lokal Larantuka bercerita tentang Gereja Besi ini kepada saya.

Gereja Besi
Gereja Besi seperti Istana Boneka di Disneyland ya.
Gereja Katedral Larantuka aka Gereja Besi
Gereja Katedral Larantuka aka Gereja Besi

Gereja Katedral Besi

“Waktu itu kami masih animisme, menyembah batu, pohon. Setelah dibaptis Katolik, Raja Adobala, membangun gereja ini namun masih memakai kayu dan bambu. Barulah pada tahun 1884 Gereja Katedral ini dibangun dengan besi-besi yang dibawa dari Den Haag, Belanda”, ujar Ibu Germana.

Dulunya tidak ada dermaga di Larantuka, jadi seluruh nelayan membantu menjemput besi-besi itu ke tengah laut tempat kapal besar dari Belanda itu labuh jangkar. Bersama-sama masyarakat Larantuka membangun gereja ini. Jadi, Gereja Katedral Larantuka ini bukan peninggalan Portugis atau Belanda. Hanya bentuknya saja yang mirip. Hingga saat ini, Gereja Besi ini sudah berusia 129 tahun.

Kesempatan menyapa Larantuka kembali tentu saja tidak saya sia-siakan. Ada rasa haru ketika bisa memasuki lagi kapel-kapel magis itu. Mengucap syukur atas berkat Tuhan yang begitu baik menjawab doa saya begitu cepat.

Perjalanan #Terios7Wonders kami akan dilanjutkan. Setelah Larantuka, kami akan bergerak menuju bagian Barat Flores. Destinasi selanjutnya adalah Maumere!!! Yeay!

Terios 7 Wonder
Tim #Terios7Wonders @iqbal_kautsar @efenerr @catatanbackpacker

Perjalanan ini adalah sponsor dari Daihatsu Indonesia dengan tajuk #Terios7Wonders #TourDeFlores.

Cerita lainnya bisa dibaca di :

1. Terios 7 Wonders – Tour De Flores 2016, Jelajah Nusa Nipa
2. Menyapa Lagi Larantuka, Kota Reinha Rosari
3. Menikmati Berendam Air Panas dan Senja Sendu di Pantai Kawaliwu
4. Gereja Tua Sikka dan Tenun Alami Lintas Generasi
5. Menyongsong Matahari Terbit di Danau Kelimutu
6. Kasih Kampung Bena Sepanjang Masa
7. Liang Bua, Asal Muasal ‘Hobbit’ Flores

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts