Pesona Tambora – Jalan Berliku Menuju Dompu

12

“Mbak…Mbak…Sudah sampai di Bandara nih” diucapkan berkali-kali oleh supir taksi sambil menepuk saya. Ternyata saya tertidur di taksi dengan pulasnya.

Itu terjadi karena saking gembiranya akan bepergian jauh, saya tidak tidur semalaman. Selain karena belum packing, saya juga tidak mau kebablasan tidur dan ketinggalan pesawat. Bayangkan saja kalau jam 4 subuh kalian sudah harus tiba di Bandara Soekarno Hatta sedangkan jarak tempat tinggal cukup jauh (Depok men!)

Beruntungnya saya mendapatkan tempat window seat di pesawat dan tepat di bagian kiri pesawat dimana saya bisa melihat matahari terbit dengan sangat jelas. Sempat sih tertidur satu jam dan saya terbangun tepat ketika matahari mulai bangun dari peraduannya. Ada rasa bahagia yang tak terkatakan begitu sinar matahari hangat menghampiri dan membelai wajah saya.

Puncak-Rinjani-dari-Pesawat
Senangnya bisa melihat Puncak Rinjani dari jendela pesawat yang kami tumpangi.

Tujuan perjalanan kali ini adalah menyusuri Nusa Tenggara Barat bagian Timur alias Pulau Sumbawa. Rencananya kami akan mengunjungi beberapa tempat di Sumbawa seperti Dompu, Bima dan tempat-tempat lainnya dengan tujuan utamanya adalah Gunung Tambora. Saya berangkat bersama 12 orang teman-teman blogger dan TV crew.

Festival Tambora ini diadakan untuk memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora (1815-2015) dengan beberapa rangkaian acara yang puncaknya tanggal 11 April 2015. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah berkolaborasi dengan media Kompas untuk mengadakan Festival 200 Tahun Tambora Menyapa Dunia. Selain pendakian bersama ke Gunung Tambora, ada banyak kegiatan yang dilakukan seperti Ultra Marathon, Trail Run, Tambora Bike dan masih banyak yang lainnya. Berikutnya setelah tulisan ini, akan ada post tentang Gunung Tambora yang dijuluki “Pompeii dari Timur”

Setibanya di Bandara Praya (Lombok), kami disambut Pak Ilham, supir yang akan mengantarkan kami ke kota tujuan pertama hari itu, Dompu. Jarak dari Praya ke Dompu kurang lebih 370 kilometer dan bisa ditempuh dalam 12 jam perjalanan termasuk penyeberangan dengan kapal feri. Siap-siap deh pantat jadi rata.

Sempat singgah sebentar di rumah makan, kami akhirnya tiba di Pelabuhan Kayangan sekitar pukul 1 siang. Di sana kami berpapasan dengan rombongan pesepeda yang juga meramaikan Festival Tambora Menyapa Dunia yang berlangsung bulan April ini.

“Gile ye, itu yang naik sepeda kuat amat gowes di siang bolong gini. Kita aja di dalam mobil pasang AC Full masih aja panas”, ujar temanku.

Tak berapa lama kemudian, tiba giliran mobil kami untuk memasuki kapal feri. Ternyata banyak rombongan yang akan menyeberang hari itu. Turun dari mobil, kami menuju deck atas dan berkeliling kapal feri untuk membunuh kebosanan.

Pelabuhan Kayangan
Pelabuhan Kayangan

Biasanya kalau naik kapal feri musik yang diputar kan musik dangdut ya, tapi di kapal ini berbeda. Di layar TV diputar iklan promosi pariwisata Nusa Tenggara Barat dengan beberapa versi. Senang rasanya bahwa Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk mengenal potensi wisata daerah mereka. Kenali Negerimu, Cintai Negerimu. Masih ingat dengan slogan itu kan?

Ada yang pernah naik kapal feri dari Merak – Bakauheni atau sebaliknya? Pastinya banyak dari kalian yang sudah pernah naik dan tahu pemandangan yang biasa ada di sana. Apa coba?

Ya betul! Bocah-bocah yang berenang di bawah kapal meminta penumpang melempar uang koin untuk mereka ambil di dasar air.

Jangan harap menemukan pemandangan yang sama di Pelabuhan Kayangan ini. Pelabuhan begitu tenang, tanpa ada teriakan bocah-bocah koin. Tetapi ada pemandangan lain yang tak kalah menarik untuk saya (mungkin untuk kalian juga)

Kapal-Berlabuh-Kayangan

Tak berapa jauh dari tempat kapal feri bersandar, terlihat beberapa orang yang sedang memancing namun yang terlihat hanya kepalanya saja. Mereka berendam di air laut yang setinggi leher mereka. Kepalanya pun dilindungi dengan helm motor atau topi. Berdasarkan info yang diberikan oleh orang lokal yang ada di dekat saya, mereka memakai helm agar tidak kepanasan. Mereka juga memancing di tengah karena ikannya lebih banyak di bagian situ.

Pelabuhan-Kayangan-orang-mancing
Apakah kamu melihat titik-titik di kejauhan sana. Ya, itu kepala orang, hahaha
Memancing-di-pelabuhan-kayangan
Asyik ya kayaknya siang-siang berjemur adem di dalam air sambil mancing

Sempat saya tanyakan mengapa tidak memancing dengan naik sampan kecil saja? Si Bapak kemudian lanjut menjelaskan bahwa mereka dari dulu memang senang memakai helm motor dan berendam langsung di air laut agar tidak kepanasan.

“Kan kalau di atas sampan, mereka bosan dan kepanasan, Mbak”, ujar si Bapak.

Saya terkikik geli melihat pemandangan tersebut dan memperhatikan gerak-gerik mereka. Hebat lho mereka bisa bertahan memancing dengan helm motor full face dengan posisi diam yang cukup lama. Ya iya dong mereka tidak boleh banyak bergerak karena nanti ikannya kabur.

Kapal Feri mulai bertolak dari Pelabuhan Kayangan. Angin sepoi-sepoi semilir membuat saya terkantuk dan akhirnya saya menyerah karena belum tidur semalaman.

Rasanya baru tidur sebentar, tahu-tahu kami sudah tiba di Pelabuhan Pototano. Ternyata penyeberangan dari Kayangan ke Pototano hanya sekitar 1.5 jam.

Halo Sumbawa!

Pototano-Tambora-Dompu
Selamat datang di Pototano. Lucu ya kapal-kapal feri nya

Pototano-kapal-ferry

Ah, perjalanan masih jauh Kak. Masih 295 kilometer lagi. Kata Pak Ilham sih masih sekitar 6 jam lagi. Sabaaarrrr, sebentar lagi juga sampai 😉

Menyusuri jalanan dari Pototano menuju Dompu sama sekali tidak membosankan. Jalanan aspal mulus membentang dengan pemandangan bukit hijau dan coklat membunuh rasa bosan dengan cepat. Beberapa kali kami juga menyusuri pantai. Uuuhhh, senang sekali.

Selain menikmati pemandangan sepanjang jalan, kami juga senang sekali berteriak “Yang semangat ya Pak!” kepada setiap rombongan pesepeda yang kami temui sambil dadah-dadah ala Putri gitu. Yes we were that silly!

Tambora-bike-race
Rombongan Tambora Bike yang mengayuh sepeda dari Lombok hingga Sumbawa

Begitu matahari sudah terlihat rendah di Barat, kami melipir ke salah satu pondokan di Pantai Baru, Sumbawa. Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dari subuh, kami bisa selonjoran di pantai, menyeruput segarnya es kelapa muda sambil menikmati matahari terbenam. Nikmat tiada dua…

Senja-pantai-baru-tambora
Senja cantik di Pantai Baru, Sumbawa
Sunset-berdua-tambora
Ada yang lebih romantis dari ini? Jalan berdua menikmati senja…

Sudah lewat dari pukul tujuh malam ketika kami berangkat untuk melanjutkan perjalanan. Karena jalanan gelap tanpa ada penerangan lampu, saya kira tidur adalah pilihan yang terbaik.

Namun, siapa yang tidak bahagia begitu membuka kaca mobil dan mendongak ke langit, terlihat jutaan bintang kerlap-kerlip dengan siluet bukit-bukit di sebelah kanan dan cahaya bulan yang begitu terang memantul ke laut.

Alhasil sepanjang jalan kami membuka kaca mobil, memasang lagu kesukaan dan bernyanyi bersama. Pak Ilham yang gaul itu pun turut bergabung. Momen itu adalah momen yang sangat menyenangkan. Hingga akhirnya kami tiba di Dompu sekitar pukul 11 malam. Lupa deh sama semua lelah di perjalanan udara, laut dan darat dalam satu hari.

Mari kita memejamkan mata dan menanti perjalanan panjang esok pagi. See you soon, Tambora.

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts