Pulau Diyonumo, Pulau Cantik Berpenghuni Kucing di Gorontalo

Eh? Masa iya ada pulau kosong yang dihuni kucing? Ada. Serius ada. Itu mengapa saya ingin berbagi cerita dengan kalian tentang pulau unik yang baru saya sambangi beberapa waktu lalu.

Berawal dari ajakan sahabat saya, Yusni, yang memberi racun foto-foto bagus yang ia ambil di pulau itu, saya pun tertarik untuk menyambangi Pulau Diyonumo.

Butuh sekitar 2 jam perjalanan darat dari pusat kota Gorontalo ke Gorontalo Utara tepatnya di Desa Deme. Cuaca mendung di pagi hari sempat membuat kami sedikit kecewa.

Tentunya kami ingin membuat dokumentasi dengan langit biru cerah sebagai latar belakangnya. Eh, semakin siang dan dekat dengan tujuan, semesta memberkati kami dan langit kelabu hilang berganti biru seketika. Yeaaaayyy!

Bersama dengan Ari dan Yusni, kami bertiga berencana menghabiskan waktu seharian di Pulau Diyonumo. Kami sudah membawa pakaian renang, alat snorkeling, air bed dan hammock untuk bekal kami bersantai di pantai. Kami bawalah alat-alat itu semua naik ke atas kapal kecil yang akan mengantarkan kami ke pulau.

“Kalau 3 orang kasih 20 ribu saja masing-masing buat pulang pergi”, kata bapak empunya perahu. Ya karena kami datang di hari biasa, jadi kami tidak menjumpai orang lain yang bisa diajak share cost.

Ya tapi dua puluh ribu tidaklah mahal dan kami sangat senang karena hari itu Pulau Diyonumo seolah-olah menjadi pulau private untuk kami bertiga saja.

“Nanti di pulau ada warung nggak Pak?” tanya Ari pada bapak perahu.

“Iya ada, jual mie, jual kelapa, jual air ada” jawab si Bapak.

Wah amanlah kalau begitu, pikir kami. Karena berangkat terburu-buru dari Gorontalo karena takut kesiangan, kami tidak membawa banyak camilan.

Kami hanya membawa bekal 1 botol air mineral 1,5 Liter dan 2 bungkus biskuit. Kalau tidak cukup kan bisa beli makan di warung di pantai. Begitu rencananya.

Eh ternyata saat kami tiba, pulaunya kosong dan semua warung tutup. Hahahahaha. Pupuslah sudah angan-angan minum air kelapa di tepi pantai karena tidak ada yang bisa memanjat pohon kelapanya.

Itu juga berarti kami harus menghemat perbekalan. Harus hemat minum air, hemat makanan sampai nanti kembali pulang.

Ya sudah. Kami sudah kepalang ada di pulau dan Yusni mengajak kami segera naik ke bukit karena cuaca tidak terlalu panas dan pas untuk menanjak ke atas.

Saat itulah saya mendengar suara anak kucing mengeong-ngeong. Kucing kecil berbulu abu-abu mendatangi saya dan membiarkan saya mengelus-ngelus lehernya. Duh gemasnyaaaaa….

Kucing kecil itu mengikuti saya berjalan menuju ke bukit. Lalu muncul lagi satu kucing hitam dan kucing lucu dengan bulu belang tiga. Wah, ternyata ada banyak kucing di pulau ini.

Padahal tak ada sama sekali orang yang menghuni Pulau Diyonumo. Lantas, kucing-kucing ini makan apa atau diberi makan oleh siapa coba?

Satya dan Kucing Pulau

Hmmmm. Mungkin mereka mendapat makanan dari wisatawan yang datang ke pulau ini saat akhir pekan. Lalu apakah mereka puasa saat hari-hari biasa? Entahlah.

Kucing-kucing di sana terlihat sehat dan sangat gembira bertemu manusia. Saat kami berjalan menanjaki bukit, kucing-kucing ini ikut sambil meloncat-loncat.

Di pertengahan jalan, kucing yang paling kecil mulai terlihat kepayahan naik ke gundukan tanah yang cukup tinggi itu. Akhirnya saya taruh di pundak dan dia dengan anteng mencari posisi enak tanpa meronta.

Ya enak lah mendaki kalau digendong ya. Saya juga mau. Hahaahha…

Begitu tiba di puncak bukit, matahari bersinar dengan penuh semangat alias panas luar biasa. Tak ada pohon
besar untuk bernaung.

Kami mencari tempat berlindung di bawah bayangan semak-semak yang cukup tinggi. Kucing-kucing juga merasa sangat kepanasan mencari spot adem untuk berlindung. Di manakah spot adem mereka?

Di selangkangan kaki kami. Hahahaha…

Meski kepanasan, kami tak mau menyia-nyiakan langit cerah dan segera membidik pemandangan cantik yang kami lihat dari puncak bukit.

Meski peluh terus mengalir di balik pakaian kami, kami lebih terfokus untuk membuat dokumentasi bagus dan minum air sedikit-sedikit agar tak cepat habis. Kami hanya berharap kami bertiga tidak dehidrasi dan tidak terbakar kulitnya (makanya pakai sunblock ya!).

Yusni mengeluarkan drone dan bersiap untuk menerbangkannya. Wah, dengan bukit hijau dan pantai biru serta pohon kelapa di sekitarnya, pemandangan dari atas pasti sangat cantik.

Aeral Phota Pulau Diyonumo

Saat baling-baling drone berputar kencang dan bersiap terbang, saya yang sedang asyik mengelus, kucing-kucing itu terkejut karena si kucing kecil tiba-tiba mencakar tangan saya.

Mungkin dia kaget dengan bunyi drone dan kibasan angin baling-balingnya dan tangan saya yang jadi korban kekagetannya.

Saya kaget karena cakaran yang dibuat oleh anak kucing itu membuat luka yang cukup dalam di jari saya dan seketika tangan saya berlumuran darah segar yang mengalir cukup deras. Yusni dan Ari panik melihat tangan saya dan bingung harus berbuat apa.

Namun, terluka berdarah sudah menjadi makanan sehari-hari saya yang senang main ke gunung dan laut ini. Saya membasuh luka saya dengan air (dengan meminta ijin dulu pada Yusni dan Ari karena itu artinya jatah air kami berkurang sedikit).

Saya meminta tolong Yusni untuk mengambilkan kotak P3K di dalam tas saya. Yusni menyodorkan botol kuning yang saya minta, Betadine Dry Powder Spray.

Saya kocok dulu botolnya lalu menyemprotkan Betadine Dry Powder Spray dari jarak 15 cm. Nyessss… lapisan tipis berwarna oranye langsung menutup luka saya dan rasanya dingin.

Jari saya berhenti mengeluarkan darah dan tiada lagi rasa sakit yang terasa. Saya menatap kucing kecil itu yang ketakutan dan bersembunyi di kaki saya. Ah, mana bisa saya marah pada makhluk kecil itu meski sudah mencakar saya hingga berdarah. Ya namanya juga anak-anak.

Yusni dan Ari sempat heran dan bertanya kenapa saya selalu membawa kotak P3K kemana-mana. Ya, karena kita harus ingat bahwa kecelakaan kecil bisa terjadi di mana saja dan kapan saja kan? Jadi ada baiknya kita berjaga-jaga dengan membawa kotak P3K.

Minimal saat kita terluka, untuk mencegah infeksi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membersihkan luka dengan cairan antiseptik.

Saya biasanya membawa Betadine cair versi botol kecil yang warnanya kuning karena simple untuk dibawa traveling. Tapi sekarang saya lebih suka membawa Betadine Dry Powder Spray.

Betadine Spray Betadine Spray Product

Betadine Dry Powder Spray adalah obat antiseptik praktis yang mengandung Providone-Iodine 2,5% yang bisa membunuh kuman penyebab infeksi tanpa harus menyentuh luka.

Pemakaiannya memang praktis karena tinggal disemprot saja. Enaknya lagi, Betadine Dry Powder Spray ini punya cooling effect jadi nggak terasa perih sama sekali ketika disemprotkan ke luka.

Dry powder spray

Syukurlah ada Betadine yaa jadi insiden cakar kucing itu bisa teratasi dengan baik. Tentu cerita dicakar kucing di Pulau Diyonumo ini akan selalu saya kenang. Pastinya saya juga merindukan kucing-kucing lucu yang jadi penghuni pulau itu.

Anyway, Betadine mau mengajak kamu jalan-jalan ke Manchester gratis lho! Caranya?

Ikut games “Be Prepared and Play” di microsite ini, lalu mainkan games dengan memilih barang yang benar sesuai dengan tempat tujuan di tiap levelnya.

Kumpulkan poin sebanyak-banyaknya dan dua orang dengan poin terbanyak akan memenangkan hadiah utama jalan-jalan ke Manchester, UK! Asyiknya lagi, setiap pemenang bisa mengajak satu orang teman untuk diajak jalan-jalan ke sana. Ya ampun seru banget kan?

Kompetisi ini berlangsung hingga 22 Oktober 2017. Jadi jangan sampai ketinggalan ya! Good luck!

Cheers,

Sign Satya

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts