Road Trip Medan – Banda Aceh Naik Bus Double Decker Sempati Star Nan Mewah

53

Sudah sejak lama saya mendengar bahwa bus umum antar kota antar provinsi (AKAP) yang termewah di Indonesia adalah jurusan Medan ke beberapa kota-kota di Aceh. Tentu sebagai seorang busmania (ngaku doang meski nggak ikut komunitasnya) saya ingin mencicipi langsung.

Ada beberapa pilihan bus dari Medan menuju Aceh seperti Sempati Star, Putra Pelangi, Kurnia dan beberapa PO bus lainnya. Seorang teman merekomendasikan naik Putra Pelangi karena menurutnya busnya nyaman dan enak. Begitu ada testimoni seperti itu, saya pun memutuskan untuk naik Putra Pelangi saja. Atas kebaikan Bang Andy dan Kak Eka, saya diantarkan ke pool bus jam 9 malam dan baru mendapatkan bus pukul 22.45, sesuai yang tertera di tiket. Saat saya membeli tiket VIP seharga Rp 180.000, bus yang akan saya tumpangi belum tersedia alias masih di dalam garasi pool.

“Nanti kalau sudah mau berangkat dipanggil kok Kak”, ujar petugas poolnya.

Jadilah kami menunggu di dalam waiting room sambil berbincang-bincang hingga plat bus yang tertera di tiket saya disiarkan lewat pengeras suara, sudah siap untuk diberangkatkan.

Begitu saya melihat bus nya, saya terkaget-kaget karena bus nya jauh sekali dari yang dikatakan VIP Bus. Busnya sudah tua dan mesinnya berderit. Lampu bagian dalam busnya remang-remang. Saya naik ke dalam bus dan terkaget lagi karena di dalam bus bau, joknya juga sudah lusuh, tiada bantal dan selimut seperti bis-bis Medan jurusan Aceh yang lain.

Ini saya nggak salah naik kan? Gumam saya waktu itu dan kembali mengecek plat bus. Benar kok, nomornya pas dengan tiket. Akhirnya saya menuju loket dan bertanya langsung kepada petugasnya apa benar itu bus yang akan membawa saya ke Banda Aceh.

“Memang cuma itu yang ada busnya Kak, yang VIP udah nggak ada”, katanya dengan santai tanpa rasa bersalah.

“Lho? Kan tadi bilangnya VIP Bus, kok yang datang bus ringsek begitu? Kok kalian menipu sih?” ujar saya lagi dengan nada kecewa.

Petugas loket tidak mengacuhkan saya hingga membuat saya sedikit kesal. Saya lantas meminta kembali uang saya dan berencana pindah ke pool bus lain. Sebenarnya saya bisa naik bus apa aja, nggak pernah ngeluh sekalipun naik truk sama kerbau. Tapi saya kecewa karena merasa ditipu sama PO Putra Pelangi ini.

“Bisa refund, tapi dipotong 25%” kata petugasnya lagi dengan muka lempeng.

He? Dipotong 25%? Kejam nian Putra Pelangi ini. Sudah menipu penumpang, mengembalikan uang tiket pun pakai potongan. Dalam hati sudah dongkol tapi saya terima juga uang Rp 135.000,-, uang tiket saya yang mereka kembalikan. Duh, nggak lagi-lagi deh naik Putra Pelangi ini. Never, never, never again…

Bang Andy dan Kak Eka yang masih sangat baik menunggui saya hingga berangkat, akhirnya mengantarkan saya ke pool bus Sempati Star, bus yang biasa mereka naiki jika ingin pergi ke Aceh. Ah, seharusnya saya memilih Sempati Star saja dari awal.

Kami tiba di pool Sempati Star di jalan Asrama Pondok Kelapa Medan sekitar pukul 11 malam. Poolnya cukup besar dan dilengkapi minimarket, musholla, waiting room dengan AC. Ada dua bus terparkir yang sepertinya siap berangkat. Salah satunya adalah bus double decker yang membuat saya jatuh cinta dari pandangan pertama.

Bus Sempati Star

Bus bertingkat ini terbagi menjadi dua ; bagian atas disebut VIP Class dengan harga tiket Rp 250.000,- dan bagian bawah disebut First Class dengan harga tiket Rp 430.000,-. Whoaaaa harga first class-nya hampir sama dengan biaya naik pesawat dari Medan ke Banda Aceh.

Sempati Star Medan

Begitu naik ke lantai atas bus double decker Sempati Star, saya kegirangan melihat bagian dalam bus. Seat-nya besar dan luas dengan komposisi seat 2-2. Di tiap-tiap kursi terdapat satu bantal dan satu selimut tebal. Makin senang karena bantalnya wangi dan selimutnya lembut. Rasa-rasanya perjalanan saya ke Banda Aceh dari Medan akan sangat menyenangkan dan nyaman karena naik bus double decker.

Sempati Star Banda Aceh

Saya juga baru tahu kalau bus double decker Sempati Star ini menyediakan entertainment screen on board, semacam di pesawat gitu. Tiap-tiap seat sudah dilengkapi dengan screen yang menyediakan beberapa pilihan film dan lagu. Tapi earphone tidak tersedia jadi harus memakai kepunyaan sendiri. Tersedia juga usb port yang bisa dipakai untuk charge handphone atau nyetel film dan lagu kalau disimpan di flashdisk, misalkan.

Fasilitas yang lainnya adalah toilet dan wi-fi. Sayang wi-fi-nya sedang tidak bekerja baik dan sinyal selama perjalanan oke-oke saja jadi nggak perlu-perlu amat. Toiletnya ada di lantai 1 bus dan bersih.

Bus bergerak keluar dari pool menjelang pukul 12 malam setelah kenek selesai membagikan kotak snack ke masing-masing penumpang. Kotak snack yang isinya air mineral, bolu kecil dan kacang. Mungkin karena sudah seminggu menjelang hari Lebaran, bus saya tumpangi full board, penuh. Di samping saya duduk seorang anak gadis yang begitu duduk langsung menyelimuti kepala hingga kaki dan tidur. Tak sempat saya sapa atau ajak bicara.

Saya belum mengantuk dan memutuskan untuk menonton ‘The Martian”, salah satu film luar angkasa favorit saya yang entah berapa kali diputar pun takkan membuat bosan. Bus melaju cepat di jalan aspal nan mulus. Saya keasyikan menonton sehingga tanpa sadar bus berhenti untuk sahur. Saya memilih untuk tetap di dalam bus saja karena saking nyamannya, merasa tak perlu turun keluar bus untuk meregangkan badan.

Medan Banda Aceh

Selepas sahur, bus melaju lagi dan saya memutuskan untuk tidak tidur sampai matahari terbit. Rasa-rasanya pasti akan sangat menyenangkan bisa menyaksikan matahari terbit dari dalam bus yang sedang melaju. Sama seperti menyaksikan matahari terbit dari balik jendela gerbong kereta.

Namun kenyataannya pagi itu mendung, tak ada warna matahari keemasan. Saya membetulkan posisi dan bersiap untuk tidur karena masih 6 jam perjalanan untuk tiba di Banda Aceh. Lucunya, saya terbangun sekitar pukul 10.20 dan terkaget karena bus nya kosong. Ternyata 90% penumpang turun di Lhokseumawe dan penumpang yang tersisa hanya empat orang termasuk saya yang duduknya di belakang.

Sopir Sempati Star

Kiri kanan, hanya ada pemandangan sawah dan perbukitan. Sambil mengumpulkan nyawa, saya senyum-senyum sendiri melihat pemandangan alam bumi serambi Mekah. Langit biru cerah menambah meriah. Saya tiba di Banda Aceh pukul 1 siang yang berarti 13 jam perjalanan dari kota Medan. Biasanya sih jarak tempuhnya 10 jam, tapi saya nggak keberatan karena saya dapat 3 jam ekstra untuk menikmati bus double decker ini. Ah, tercapai juga impian saya menyambangi Aceh di bulan ramadhan.

Assalamualaikum, Aceh!

Special Notes :

1. Rute yang dilayani Sempati Star ini adalah Medan ke beberapa kota di Aceh seperti Banda Aceh, Sigli, Beurenuen, Bireun, Lhokseumawe, Lhoksukon, Langsa, Bijei, Takengon.

2. Daftar harga tiket dari Medan menuju Banda Aceh adalah Rp 430.000 untuk kelas First Class, Rp 260.000 untuk kelas Non Stop, Rp 220.000 kelas Super VIP, Rp 200.000 kelas Patas VIP, Rp 190.000 kelas Super Executive, dan Rp 180.000 kelas Patas Executive. (harga bisa berubah sewaktu-waktu)

3. Best seat versiku itu di lantai 2, yang menghadap tangga, seperti yang ada di foto. Lebih besar space nya, pun melihat pemandangan di luar jendela lebih luas dibanding seat lainnya.

Cheers,

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts