Road Trip Motor Seru Bandung – Ranca Buaya Garut

16
Sewaktu masih jadi pekerja kantoran, mau liburan yang jauh itu susah karena terbatasnya jatah cuti. Rasanya pengen balik ke masa kuliah dimana jatah liburannya lebih dari satu bulan. Asyik bener. Iya kan iya kan?
Lalu terpikirlah buat ngelakuin kegiatan seru selama sabtu – minggu saja tapi tidak sekedar nongkrong di emol. Berangkatlah saya dan Janatan untuk…
ROAD TRIP!

Tujuan kali ini adalah Ranca Buaya, pantai selatan Garut. Kami pun menyiapkan perlengkapan dan peralatan untuk kemping karena kami berencana mendirikan tenda di dekat pantai. Perjalanannya cuma dua hari satu malam dan kami bakal pulang-pergi naik motor. Lebih seru daripada naik angkutan umum pastinya karena bisa berhenti sesuka hati, bisa motret, bisa jumpalitan di tengah jalan. Ya pokoknya suka-suka deh.
Biar jalan gak terasa capek, bercanda dan foto-foto lah kami. Tapi harus ingat, safety first 😉
Berangkatlah kami pagi-pagi sekali dari Bandung. Jalurnya melewati Leuwipanjang – Soreang – Ciwidey – Ranca Bali – Ranca Buaya. Lalu untuk jalur balik ke Bandung kami berencana mengambil jalur Ranca Buaya – Pangalengan – Soreang – Bandung. Jika punya banyak waktu, bisa juga mampir ke Ranca Upas dulu dan menginap semalam lalu melanjutkan perjalanan keesokan paginya.

Jalur berangkat lewat Ciwidey, jalur pulang lewat Pangalengan

Yang paling menyenangkan dari road trip ini adalah pemandangan sepanjang jalan yang hijau dan menenangkan. Apalagi pas ngelewatin Ranca Bali. Duh cantiknya area perkebunan teh ini ibarat permadani hijau yang besar sekali. Berbeda dengan kebun teh yang ada di Puncak yang lokasinya cenderung tinggi atau sejajar mata, Ranca Bali ini posisinya ada yang lebih rendah dari jalan jadi ciamik buat berfoto ala-ala di labirin gitu.
Kebun Teh Ranca Bali. Perpaduan warna hijau, biru dan putih manjain mata ya 😉

Setelah melewati Ranca Bali, nanti kita bisa menikmati beberapa air terjun yang ada di tebing sisi kiri jalan. Meski agak jauh, namun tetap menyenangkan untuk dipandang-pandang. Ada sekitar lebih dari lima air terjun kalau tidak salah.

Air terjun di pinggiran jalan. Musim kemarau jadi airnya kecil…
Cuaca cerah mendampingi perjalanan dari Bandung sampai Ranca Buaya sekitar 5 – 6 jam. Pantat nggak pegel tuh? Ya pasti pegel lah ya. Jadi kami menyiasatinya dengan sering berhenti untuk foto dan melempar canda atau tebak-tebakan selama di jalan. Meski kadang-kadang Janatan garingnya luar biasa, kami berdua tetap saja tertawa terbahak-bahak. Tanpa terasa, tahu-tahunya kita sudah sampai di tujuan.


Hai Ranca Buaya

Beberapa kali saya diajak teman-teman untuk main ke pantai yang ada di selatan Garut ini tetapi selalu gagal. Akhirnya kesampaian juga sama Janatan. Setelah melewati jalur meliuk-liuk yang membelah perkebunan teh dan hutan serta persawahan selama berjam-jam, terlihatlah pantai di kejauhan tetapi ternyata bukan Ranca Buaya. Dari turunan itu masih sekitar 1 jam untuk sampai ke Ranca Buaya. So excited!
Petunjuk jalan cukup jelas dan orang lokal pun pasti tahu dimana lokasi Ranca Buaya. Sebelum memasuki area pantai, kita harus membeli karcis seharga Rp 5000,- per orang lalu membayar lagi Rp 10.000,- untuk kendaraan roda dua dan Rp 20.000,- untuk kendaraan roda empat. Saya tidak menyangka ternyata Ranca Buaya itu luas sekali. Ada banyak sekali warung-warung berjejer di sisi kiri kanan jalan. Mulai dari warung makan, toko kelontong, toko baju pantai sampai pedagang ikan basah segar semuanya ada. Plus beberapa homestay untuk pengunjung yang mau menginap. Tapi kami berdua sudah membawa tenda jadi tinggal mencari lokasi yang pas dan nyaman.

Pantai Ranca Buaya dilihat dari bukit…
Kami berkendara menaiki jalan menanjak ke bagian atas dan ternyata cukup mengejutkan karena padang rumput berwarna cokelat yang datar dan luas sekali. Awalnya kami berpikir untuk mendirikan tenda di tepi pantai namun pada akhirnya diurungkan karena area pantai pasir sudah padat dengan warung dan parkiran motor dimana hanya area pantai dengan batu karang yang tersisa. Mana bisa membangun tenda di atas karang, pikir kami.
Meski sempat tersesat beberapa kali di jalan setapak padang rumput yang luas sekali itu, kami akhirnya mendapat lokasi camp yang enak dan sesuai harapan saya, menghadap ke barat, ke arah pantai.
Senja di Ranca Buaya, Paling asyik bikin tenda menghadap ke barat 😉

Dan jadilah sore itu sempurna karena senja jingga merona menggantung di ufuk barat Ranca Buaya…

Dan terputarlah lagu ini…

Oh lights, go down…
In the moment we lost and found…
I just wanna be by your side…

We’d remember tonight…
For the rest of our lives…

***
Malam menjelang dan kami menyiapkan makan. Waktu itu kami berpikir tak lengkap rasanya liburan ke pantai tapi tidak makan ikan. Jadilah kami turun ke pantai dan membeli ikan segar seharga Rp 60.000 per kilogram (harga ikan di kawasan pantai Ranca Buaya ini memang relatif lebih mahal) dan minta dibersihkan serta dibakar. Kami bawa kembali ke tenda, menyiapkan sambal dabu-dabu sendiri dan menandaskan ikan bakar dengan lahap. Setelah kenyang kami goler di rumput depan tenda dan memandang langit penuh bintang.

Terima kasih Tuhan, hidup kami asyik…
Ikan bakar segar yang manis dan mantap disantap pakai sambal dabu-dabu…
Kami sempat tertidur dan terbangun tak berapa lama setelahnya. Sadar kalau angin laut malam tidak baik, segeralah kami beringsut ke dalam tenda dan melanjutkan tidur.
Keesokan paginya kami bangun lalu bergegas mengepak semua barang dan memutuskan sarapan di warung makan di tepi pantai. Pilihan kami jatuh pada bakso. Nama pemiliknya Teteh Amoy. Selain menjajakan makanan, dia juga punya toko kelontong dan penginapan sederhana di atas rumahnya. Harga yang ditawarkan cukup bersahabat, hanya Rp 100.000,- per malam tapi itu harga tahun lalu lho ya. Saya tidak tahu apakah harganya sudah berubah sekarang.
Warung makan, toko kelontong dan penginapan Teteh Amoy…
Selepas makan pagi, pergilah kami berjalan-jalan menyusuri pantai. Ranca Buaya bukanlah pantai yang enak untuk berenang. Batu-batu karang menghampar dan ombak besar terus-terusan menghantam. Yah, pantai ini asyik buat dipandang-pandang saja. Takut digulung ombak kalau coba-coba berenang euy.

Ombak dan batu karang di Ranca Buaya
Puas berjalan-jalan, kami pamit dengan Teteh Amoy untuk pulang ke Bandung. Kalau awalnya kami memilih untuk lewat Ciwidey dan Ranca Bali, kami memilih jalur Pangalengan untuk pulang ke Bandung. Saran saya berkendaralah dengan hati-hati karena jalurnya menanjak dan panjang. Ada banyak warung makan di kiri kanan jalan untuk beristhirahat. Berhentilah sejenak jika lelah, jangan memaksakan diri dan malah membahayakan orang lain.
Ada warung makan yang ada di jembatan dekat tanjakan yang cukup panjang dan kami berhenti dulu di situ dan mengisi amunisi. Ternyata banyak juga pemotor lain yang sedang beristhirahat dan bersiap-siap untuk melewati tanjakan panjang nan jauh itu. Mobil-mobil saja antri untuk melewatinya untuk menghindari celaka jikalau ada mobil yang tidak kuat nanjak. Dan kami menonton dari kejauhan, tegang ketika ada mobil atau motor yang kesusahan saat menanjak dan menghembuskan nafas lega saat mobil / motor itu sampai dengan selamat.
Kami lewat Pangalengan ketika hari sudah sore benar. Tadinya saya berharap bisa melihat hamparan perbukitan the yang cantik. Apa daya hari sudah gelap. Hanya ada guratan jingga di langit yang membuat saya senang. Sisanya jalanan gelap yang kami nikmati hingga tiba kembali lagi ke Bandung.
Senja di Pangalengan
Bokong rasanya tipis begitu kami sampai di rumah tapi badan kami rasanya seperti habis diisi penuh dayanya, fully charged. Liburan singkat yang seru dan jadi baterai untuk seminggu ke depan.


Yuk kita roadtrip lagi!


Catatan Kecil :

  • Periksa kondisi kendaraan agar tidak ada masalah di jalan, baik itu mesin, roda, lampu.
  • Pastikan bawa surat-surat lengkap agar aman jika ada pemeriksaan mendadak.
  • Pakai pakaian yang nyaman dan pakai jaket windbreaker yang tipis agar tidak terlalu kegerahan di jalan tetapi tubuh tetap terjaga dari masuk angin. Ah ya jangan lupa sunglassesdan buff agar mata dan wajah terlindung dari paparan matahari.

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts