Tebing Keraton, Tebing Galau di Bandung

5
“Bangun…Ayo bangun…..Katanya mau berangkat subuh ke Tebing Keraton” ujar temanku sambil mengguncang-guncang badanku yang masih meringkuk di dalam selimut. Bandung dinginnnn….
Kulirik jam yang masih menunjukkan pukul 06.30. Yah, telat deh untuk dapat pemandangan berkabut di Tebing Keraton yang sedang hits itu. Tapi, sudah jauh-jauh datang ke Bandung, sayang banget kalau rencananya batal. Kami pun bergegas mandi, berpakaian, menyalakan motor dan berkendara ke arah Dago Pakar.
Awalnya saya tahu tentang Tebing Keraton ini dari Susan dan Adam “PergiDulu” yang berbagi cerita perjalanan mereka di sini
Saya langsung terperangah dengan keindahan foto-foto yang dibagi oleh Adam dan Susan. Walau mereka sudah berbagi tentang Tebing Keraton bulang Agustus 2014 kemarin, saya baru sempat mengunjungi tempat ini di awal Maret 2015.
Tempat ini populer dengan sangat cepat. Jika mengetik hashtag #tebingkeraton di Instagram pasti akan muncul belasan ribu foto entah itu foto pemandangannya atau selfie dan groufie (sebutan baru untuk foto selfie bareng teman-teman. Karena ramean namanya groufie, group selfie)
Oke, kita lanjut ke perjalanan menuju Tebing Keraton…
Kami berkendara kurang lebih 30 menit ke arah Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda. Dari pintu gerbang Tahura, kita masih terus lurus sampai bertemu pertigaan kemudian ambil jalan ke kanan. Mulai dari pertigaan, jalanannya berlubang dan berbatu jadi harus lebih berhati-hati. Sekitar 2 KM dari pertigaan, kami bertemu Warung Bandrek dan memarkirkan motor. 
Warung Bandrek favorit para pesepeda. Dingin-dingin gowes, isthirahat sambil minum bandrek pasti mantep…
“Wihhh rame banget ya” ujarku sambil melihat sekeliling.
Tempat itu dipenuhi dengan mobil, motor dan sepeda yang parkir. Menurut temanku, jalur ini dulunya menjadi favorit para pesepeda dan off-road junkie. Namun setelah Tebing Keraton ini terkenal, pengunjungnya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga keluarga yang membawa balita. Segitu terkenalnya ya…
Kami memutuskan untuk berjalan kaki mendaki sekitar 3 KM untuk sampai di Tebing Keraton. Entah beberapa kali tukang ojek datang menghampiri dan kami tolak dengan halus. Tujuan kami kan mau sekalian olahraga, masak naik ojek.
“Ojek Neng, lima belas ribu ajah ke atas. Masih jauh Neng” rayu si Abang Ojek.
Saya dan teman saya hanya tersenyum dan melanjutkan langkah. Berasa sih capeknya karena jalurnya “ngaceng” alias menanjak banget. Saya lihat beberapa pengunjung yang naik motor harus beberapa kali turun karena motornya (kebanyakan motor bebek atau matic) tidak kuat menanjak dengan kondisi jalan licin dan berbatu. Lebih enak jalan kaki loh sebenarnya daripada naik motor dengan resiko tergelincir. Apalagi udara di pagi hari kan segar, nikmatilah…
Banyak pesepeda yang melintasi jalur ini setiap akhir pekan
Jalanan licin dan berbatu. Biasanya yang dibonceng disuruh turun dan jalan kaki dulu
Tapi saya nggak habis pikir dengan yang jalan ke tebing keraton pakai wedges. Iya, pakai wedges. Hebat banget Mbak-nya yaaa…. Hebat bisa menahan rasa sakit jalan memakai sepatu berhak di jalanan berbatu. Saya sih nggak menyarankan berjalan ke Tebing Keraton memakai wedges. Lebih baik pakai sepatu kets atau running shoes yang nyaman
Sepanjang berjalan menuju Tebing Keraton, kami bertemu beberapa Ibu-ibu yang membawa keranjang besar berisi rumput yang mereka panggul hingga setengah membungkuk. Rumput tersebut sepertinya makanan untuk ternak mereka. Selain itu, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan pemukiman penduduk dan ladang yang rapi. Cantik!

Kami berjalan sekitar 30 menit dan tiba di pintu gerbang Tebing Keraton yang terbuat dari batu. Di bagian gerbang terdapat beberapa spanduk bertuliskan peraturan-peraturan yang harus dipatuh
i selama berada di kawasan tersebut. Di salah satu spanduk juga tertulis biaya tiket masuk untuk wisatawan lokal sebesar Rp 11.000,- dan wisatawan mancanegara Rp 76.000,-. Wow…
Menurut kalian harga tiketnya wajar nggak sih?
Untuk wisatawan lokal sih sebelas ribu masih terjangkau, tapi tujuh puluh enam ribu untuk wisatawan mancanegara menurut saya terlalu berlebihan. Siapa yang menetapkan angka tersebut ya? 
Tebing Keraton kan hanya sightseeing spot, dimana kita hanya bisa menikmati pemandangan tanpa mendapatkan apa-apa. Iya sih kita bisa mendapatkan banyak foto-foto ciamik namun tak perlu semahal itu. Saya jamin, turis asing pasti akan berpikir panjang untuk datang ke tempat ini karena harga tiketnya terlalu mahal. Menurut saya paling mentok ya Rp 50.000,- deh. Jangan lebih dari angka itu. Saya juga bingung siapa ya yang memutuskan angka 11 dan 76? 
Dari gerbang masuk, terlihat paving block yang mengarahkan kita ke ujung bukit alias tebing keraton. Pertanyaan saya kenapa tempat ini dinamakan tebing keraton terjawab sudah dengan adanya papan penjelasan kecil yang ada di bagian kiri tebing. 
Sedikit penjelasan tentang Tebing Keraton dari Pak Asep
Muncullah nama Pak Asep di papan itu, selaku orang pertama yang menemukan tebing keraton yang dulunya bernama Cadas Jontor. Beliau sendiri yang berinisiatif mengubah nama tempat tersebut menjadi Tebing Karaton (cara menyebut Keraton dalam bahasa Sunda, katanya) pada awal Mei 2014 pukul 24.00 (ada jam nya tapi kok nggak ada tanggalnya ya?).
Teman saya berkata bahwa Tebing Keraton ini memang sudah banyak berubah. Dulu tidak ada gerbang, tidak ada paving block, tidak ada pagar pembatas dan tidak ada papan-papan keterangan. Tempat itu dulunya benar-benar bukit kosong yang tidak ada apa-apanya.
Kalau akhir pekan, rame banget…
Bagusnya sih pengelola sadar tentang kebutuhan pagar pembatas dan papan-papan himbauan tersebut. Khususnya untuk keluarga yang membawa balita, pagar pembatas sangat dibutuhkan untuk menjaga balita dan anak-anak aman dan tidak terjatuh.
Walaupun sudah ada pagar, spot paling favorit di Tebing Keraton ini adalah batu-batu di pinggir tebing. Kita harus memanjat pagar pembatas yang tidak terlalu tinggi dan melangkah hati-hati di bebatuan itu. Di depan sudah diperingatkan bahwa batu-batu tersebut labil sehingga jika tidak awas, batu-batu nya bisa jatuh, beserta orangnya.
Ecieeee berduaan di tepi tebing
Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk bersantai, melihat-lihat orang-orang di sekeliling kami asyik berfoto sambil menunggu giliran untuk foto di batu favorit. Harus sabar mengantri apalagi di akhir pekan atau hari libur dimana wisatawan pasti memadati tempat ini.
Pose favorit adalah pose duduk sambil memandang ke kejauhan atau seperti merenung gitu. Maka dari itu saya sebut tebing ini sebagai tebing galau. Kalau duduk lama-lama di sana terus inget mantan pacar, bisa galau maksimaaaaallll. Hahahaha…
“Now don’t hang on. Nothin’ lasts forever but the earth and sky. It slips away. And your money won’t another minute buy”- the lyric of  Dust in The Wind by The Kansas
Yang takut dengan ketinggian tidak disarankan untuk duduk di batu pinggir tebing itu karena cukup beresiko. Walaupun di antara batu-batu tersebut terdapat tali tambang besar yang berguna untuk membantu memanjat, saya tetap tidak menyarankan untuk yang tidak terbiasa memanjat, ikut turun ke bawah tebing.
Disarankan datang di bawah jam 8 pagi karena mataharinya masih hangat. Lebih disarankan lagi datang sebelum jam 6 pagi untuk bisa melihat kabut yang menyelimuti hutan pinus. Magical view…


Puas menikmati Tebing Keraton, kami bergegas turun. Apalagi tempat tersebut semakin sempit karena banyaknya pengunjung. Untuk melanjutkan olahraga, saya dan teman berlomba lari dari atas hingga parkiran. Karena jalannya kebanyakan turunan ya tidak terlalu melelahkan dan seru banget.
Selamat menikmati Tebing Keraton 😉
About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts