Terios 7 Wonders – Tour De Flores 2016, Jelajah Nusa Nipa

19

Larantuka selalu membuat saya jatuh cinta. Kota kecil nan apik yang menyuguhkan matahari terbit dan matahari terbenam di pantai. Kunjungan ke kota ini selalu berkesan untuk saya. Magis sekaligus menenangkan.

Masih dengan rambut basah sehabis keramas, saya berlari menenteng kamera ke depan penginapan (kami menginap di susteran), untuk menikmati matahari terbit. Langit jingga merona berubah menjadi keemasan yang tetap mempesona. Belaian mentari nan hangat di wajah selalu menambah semangat untuk memulai hari. Sempat terbengong sebentar, saya tak lupa mengabadikan momen itu lewat mata lensa.

Matahari terbit di Larantuka
Nama Flores berasal dari “Cabo De Flores” yang berarti tanjung bunga, adalah nama yang diberikan S.M Cabot, seorang keturunan Portugis dan diresmikan oleh Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1636, Hendrik Brouwer. Sebelum Flores, pulau cantik di bagian timur Indonesia ini dikenal dengan nama Nusa Nipa. 

Hari pertama Terios 7 Wonders – Tour De Flores 2016. Berangkat dari Kota Reinha Rosari, Larantuka
Kota Larantuka

Ini kali kelima saya menyambangi Flores. Jikalau biasanya saya mengunjungi Flores untuk mengulik keindahan alamnya atau kekayaan budayanya, kali ini saya beruntung bisa ikut langsung menyaksikan perhelatan Tour de Flores 2016. Bagi yang belum familiar apa itu Tour de Flores, mungkin penjelasan paling sederhananya adalah lomba balap sepeda jarak jauh. Pernah dengar Tour de Singkarak dan Tour de Ijen? Nah, sama persis!


Peserta Tour De Flores bersiap. Photo by : Rynol (@r_nol)
Saya berangkat bersama dengan 2 blogger senior, Bang Farchan, Mas Iqbal Kautsar dan Ashari Yudha, Travel Instagramer yang hits itu. Selain mereka, saya juga berangkat dengan 8 lelaki lainnya dari Daihatsu. Bersama merekalah perjalanan Tour De Flores ini saya nikmati. Kami tergabung dalam ekspedisi Terios 7 Wonders yang sudah dihelat lima kali, dan TDF ini adalah perhelatan keenam. Selain menyaksikan TDF, tim kami juga akan mengulik 7 keajaiban / keunikan objek wisata di Flores. Pembalapnya melintas pakai sepeda, kami melintas pakai mobil. Hahahahaha.

“Jadi di trip ini lelaki semua ya?”, celetuk Bang Haga yang saya tanggapi dengan terkekeh. Iya juga ya, saya menjadi satu-satunya perempuan di trip selama 8 hari ini. Ah, tak apa. Saya tahu perjalanan ini pasti menyenangkan.

Setelah seharian mengulik Larantuka dan ikut perhelatan pesta rakyat (nanti akan saya ceritakan di blogpost lain), keesokannya kami bersiap untuk mengikuti seremoni pelepasan para atlit balap sepeda yang mengikuti Tour De Flores. Ada sekitar 120-an peserta dari 20 tim dan 28 Negara yang akan berjuang menaklukkan jalur Larantuka – Labuan Bajo dengan total jarak tempuh 661,5 kilometer.



Tenang saja, jarak itu tidak ditempuh dengan sekali kayuh. Bisa koit tuh semua pembalap sepedanya. Tour De Flores ini dibagi menjadi lima etape. Etape pertama, Larantuka – Maumere. Etape kedua Maumere – Ende. Etape ketiga Ende – Bajawa. Etape keempat Bajawa – Ruteng. Etape kelima Ruteng – Labuan Bajo.



Photo by : Rynol (@r_nol)

Saat menulis ini, rombongan kami sudah tiba di Ruteng, namun tim balap sepeda baru akan memulai etape keempat, Bajawa – Ruteng yang digadang sebagai jalur terberat dengan rute tanjakan dan turunan berkelok yang tidak habis-habis. Saya saja yang duduk di kursi tengah mobil sampai harus memasang seatbelt agar tidak terlempar ke kiri dan kanan karena tajamnya tikungan. Bahkan 13 pembalap sudah mengundurkan diri dan tidak sanggup lanjut balap lagi.



Mas Wawan, pelatih tim nasional Indonesia sendiri mengakui bahwa dibandingkan Tour De Singkarak dan Tour De Ijen, jalur Tour De Flores ini memang berat dan menantang. Saya ternganga ketika tahu harga satu sepeda yang dipakai untuk ajang balap sekitar 75an juta. Rangka body-nya sekitar 45 juta, velg sepedanya 30 juta dan harga satuan ban-nya 1 juta. Fantastis!

Antusiasme masyarakat Flores yang berbaris di jalan (bahkan sebagian mengenakan pakaian adat) dan melambaikan tangan, membuat para pembalap ini terdongkrak semangatnya. Rombongan kami pun ikut melambaikan tangan dari dalam kendaraan. Berasa selebritis jadinya. Hahahaha.

Tidak lupa juga masyarakat mengajak para pembalap untuk mengenal kebudayaan di Flores dengan mementaskan tarian-tarian adat di setiap pemberhentian etape.

Tari “Gawi Sadha” di Ende yang mengantarkan para pembalap Tour De Flores 2016

Antusiasme masyarakat Flores



Nona-nona cantik di Larantuka. Duh saya mau semua kainnya 😀

Saya berharap (pastinya kalian juga) bahwa penyelenggaraan Tour De Flores ini berdampak terhadap pengembangan pariwisata dan meningkatkan angka kunjungan wisatawan mancanegara ke pulau bunga ini. Potensi yang dimiliki Flores memang luar biasa, mulai dari keindahan alamnya, kekayaan budayanya dan keramahtamahan penduduknya.

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts