Wara-Wiri ke Danau Weekuri

30
“Kita berangkat jam 8 pagi ya besok”, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Itu pesan Bang Andi, teman saya yang akan mengajak saya jalan ke Sumba Barat Daya, tepatnya ke Laguna Weekuri. Tidak hanya kami berdua, ada beberapa teman-teman yang akan ikut ke sana.
Eh keesokan harinya karena saling tunggu menunggu, keberangkatan ngaret hingga 1 jam. Siap-siap berpanas ria di perjalanan karena matahari mulai meninggi. Setelah mengenakan jaket, buff, kacamata hitam dan helm supaya aman, kami siap berangkat!
Lokasi Danau / Laguna Weekuri ini ada di Sumba Barat Daya dan menurut Bang Andi, kami akan menempuh perjalanan selama kurang lebih 2,5 jam dari Waikabubak, Sumba Barat. Jadi diperkirakan kami akan tiba tengah hari. Saya berharap airnya belum surut  karena berdasarkan penuturan Bang Andi, semakin sore, debit airnya semakin turun. Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk ke Weekuri sebenarnya tapi ya gimana dong. Masa ditunda ke Weekuri nya? Ya sudah jalan aja yuk!
Belum ada petunjuk jalan ke Weekuri, jadi penting sekali untuk pergi bersama pemandu atau teman yang sudah kenal betul dengan jalur menuju Weekuri. Syukurlah ada Bang Andi dan Zindan yang entah sudah berapa puluh kali main ke Weekuri jadi sudah hafal sekali jalan ke sana. Kami sempat berhenti di Waitabula untuk membeli makan siang (kami memilih untuk membeli nasi dan sate) dan air mineral. Pun tak lupa mengisi bahan bakar agar perjalanan lancar tanpa hambatan.
Peluh bercucuran dan membasahi kaus yang ada di balik jaket. Gibran yang membonceng saya tidak terlalu banyak bicara meski sesekali kami bercanda. Biar jauh dan panasnya jalan tidak terlalu terasa. Kami mengarah ke daerah Kodi dan lalu di satu persimpangan jalan, Zindan memimpin rombongan dan berbelok ke kanan. Seterusnya, jalanan menembus padang rumput luas, belok kanan, belok kiri, kanan lagi, kiri lagi, rasanya kelokan ini tak henti-henti.
“Bagaimana cara menghafalkan jalan ini ya Ban?” celetuk saya ke Gibran.
“Itulah Sat, saya juga nggak hapal-hapal jalan ke Weekuri” jawabnya terkekeh.
Motor kami terus mengikuti motor Zindan, menembus jalan kecil berbatu di tengah padang rumput dan tibalah kami di Weekuri menjelang tengah hari.
Saya cukup terkejut karena ada banyak pedagang begitu kami tiba di sana. Saya kira karena lokasinya jauh sekali dari pemukiman penduduk, bakal tidak ada yang berdagang. Eh ternyata ada. Mereka menjual air mineral dan beberapa jajanan yang tentu saja harganya sudah berlipat ganda dibandingkan di kota. Ada juga yang menjual kain tenun. Ah, kalau mau lihat kain tenun, nanti di tempat lain saja, pikir saya.  Saya lebih tertarik untuk segera menceburkan diri ke air biru jernih yang menggoda itu. Setelah berganti baju renang di semak-semak tertutup, saya siap untuk nyebur. Wuwuwuwuwu…

Pedagang di Weekuri. Ramee…


Sebenarnya, Weekuri ini bukan danau melainkan laguna. Dikelilingi tebing karang, air yang ada di laguna Weekuri ini datang sebagian dari laut dan sebagian lagi berasal dari mata air. Jadi airnya payau dan ada percampuran temperatur di sini, kombinasi air hangat dan dingin yang biasa disebut ‘thermocline’.  Ketika pagi hari saat air laut pasang, air di laguna ini meninggi dan ketika air laut surut, airnya menjadi sedikit hingga sebetis orang dewasa saja.

Kita bisa naik ke atas tebing karang yang ada di perbatasan laut dan danau untuk mengambil panorama danau.

Warna airnya kadang berbeda-beda karena pantulan dan arah cahaya matahari.

Teman sekaligus pemandu Sumba terbaik namanya Zindan. Pssstt, Zindan masih jomblo lho :p
Gugusan batu karang yang langsung menghadap laut…
Begitu datang dan melihatnya, Danau Weekuri ini memang menggoda. Pantulan matahari mempertegas kombinasi warna biru muda dan biru tua di danau itu. Dasar dari danau pun  terlihat sangat jelas. Jika ingin menggambil foto underwater, jangan bergerak terlalu banyak atau pasir-pasirnya akan membuat air menjadi sedikit keruh.
Whereever you are, don’t forget to take selfie, said Zindan. Hahahaha…

Sudah ada beberapa anak-anak yang sedang berenang dan bermain di air. Tak tahan lagi, saya dan teman-teman juga ikut nyebur. Sayangnya air sudah tinggal sepinggang saat kami turun ke air. Kalau datangnya lebih pagi, bisa loncat bebas dari tepian batu ke dalam danau. Tapi kalau airnya ‘cetek’ ya dengkul orang dewasa mentok kalau loncat. Saya jadi sedikit iri melihat anak-anak kecil yang oh tentu saja masih sangat bisa bergembira loncat-loncat ke dalam air. Hahahaha…

Ceria sekali kalian adik!


Matahari panas membakar ubun-ubun tetapi air yang segar bisa bikin adem. Ya jadi ada alasan untuk terus-terusan di dalam air. Bang Andi yang sudah sering ke Weekuri malah memilih tiduran di hammock yang dia pasang di bawah pohon. Mungkin Bang Andi lelah dan ingin beristhirahat saja.


Kami berenang ke sana ke mari dan tidak menyangka sudah berenang dan foto selama lebih dari dua jam. Dijamin gosong kulitnya tapi senang betul hatinya.
Kalau liat warna gini, mikirnya pasti ini danau atau laut yaaa…

Untuk menuju Danau / Laguna Weekuri, bisa mencari tiket pesawat ke Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya. Maskapai Lion Air yang paling sering melayani rute ke Sumba. Coba cek saja www.airpaz.comuntuk melihat jadwal penerbangan ke sana. Selama di sana bisa menyewa mobil atau motor untuk berkeliling Sumba.
Wah kapan lagi ada promo ke Sumba dari Jakarta cuma sejutaan. Mauuuuuuu…
Jadi, kita pergi wara wiri ke Weekuri? Yuk mari…

Aku Cinta Indonesia…

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts