Baronda Ambon, NIkmati Nasi Colo dan Kopi Sibu-Sibu

Welcome to Ambon!
Gerimis tipis menyambut kedatangan kami di Bandara Pattimura Ambon. Selama penerbangan Jakarta – Surabaya – Ambon pun, pesawat kami tak henti diguncang dan seluruh pemandangan di jendela hanyalah awan putih. Syukurlah akhirnya kami tiba juga di negeri rempah ini. Lelah juga harus berangkat jam 5 pagi Waktu Indonesia Barat dan tiba di Ambon jam 12 siang Waktu Indonesia Timur.

Tiba di Ambon bukan berarti kami sudah tiba di tujuan kami, Ora Beach di Seram Utara. Kami masih harus melanjutkan perjalanan darat dan laut. Bandara Pattimura yang letaknya cukup jauh dari pusat kota membuat kita harus memilih moda transportasi angkot atau taksi. Taksi disini adalah mobil sejenis Avanza, Xenia, Innova. 

Beruntungnya kami dikenalkan dengan beberapa teman pecinta alam dari Universitas Pattimura. Mereka dengan ramah menyambut kami, membantu mengantarkan kami berkeliling kota Ambon sebelum keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Ora Beach.

Jumlah transportasi yang sedikit memang menjadi kendala untuk tiba di Ora Beach dalam waktu singkat. Kapal cepat dari Ambon ke Masohi hanya ada dua kali sehari dan mobil ke Saleman (negeri / desa terakhir sebelum menyeberang ke Ora) hanya satu kali sehari. Dikarenakan jam tiba kami di Ambon sudah lewat tengah hari, kami tidak bisa langsung melanjutkan perjalanan ke Ora dan memutuskan untuk city tour di Ambon saja di hari pertama perjalanan #GetStranded dari Telkomsel Flash.

Hujan yang tak henti-hentinya mengguyur kota Ambon membuat kami kesulitan untuk pergi ke kota. Lokasi Unpatti yang dekat dengan Bandara Pattimura ternyata cukup jauh dengan pusat kota Ambon. Kita harus berkendara naik motor selama kurang lebih 40 menit. Namun ada alternatif lain untuk pergi ke pusat kota, yaitu naik kapal Ferry. Wih. Canggih betul hanya ke pusat kota naik kapal Ferry dengan tujuan Poka – Galala. Biaya per orangnya hanya Rp 2500, bahkan mahasiswa hanya dikenakan Rp 1000 saja.

Kapal Ferry yang kita pakai menyeberang Poka – Galala. 5 menit saja!
Tentu saja banyak yang memilih moda transportasi Ferry untuk menyeberang karena mempersingkat waktu perjalanan darat dari 40 menit menjadi 5 menit saja. Perasaan kita baru saja naik Ferry, eh sudah dikabari kalau kita sudah sampai. Itu adalah pengalaman naik Ferry tersingkat saya. Hahaha.

Malam itu kami mengunjungi Café Sibu-Sibu yang dalam bahasa Ambon diartikan sebagai angin sepoi-sepoi. Café ini ternyata cukup terkenal di kota Ambon. Selain karena menunya, café ini terkenal karena interiornya yang unik. Dari luar café kita bisa melihat ada banyak sekali foto-foto terpajang di seluruh dinding. Begitu masuk, terlihat jelas bahwa yang dipajang itu adalah foto actor, aktris, model, musisi, atlit berdarah Maluku yang ada di seluruh dunia. Siapa sangka personil Vengaboys (grup musik 90an) ternyata berdarah Maluku? Ada pula Chelina Manuhutu, model cantik berdarah Maluku yang berdomisili di Belanda dan masih banyak yang lainnya.



Sebelah kiri itu Chalid dan sebelah kanan itu Mato. Mereka berdua teman-teman baruku dari Universitas Pattimura. Terima kasih kepada mereka yang sudah antar kami jalan-jalan keliling kota 😀
Jika mampir ke café ini, ada beberapa menu yang tidak boleh dilewatkan seperti Kopi Sibu / Kopi Raroba, Teh Susu Jahe Halua, Pulut Unti, Pulut Siram dan Sukun Goreng Sambal. Menu-menu tadi merupakan highlight di Café Sibu-Sibu yang rasanya enak sekali. Kopi Raroba menebar wangi yang khas karena kopi ini dicampur dengan rempah (raroba = rempah) dan ditaburi kenari di atasnya. Begitu juga dengan Teh Susu Jahe Halua, sari jahe yang dicampur susu dan ditaburi kenari, yang sejak pertama diseruput, menjadi favorit saya. Rasanya hangat dan manisnya pas. Cocok sekali diminum saat kota Ambon sedang dingin-dinginnya. Pulut Unti, Pulut Siramnya lembut dan meleleh
di lidah dengan rasa manis yang pas sedangkan Sukun Goreng Sambal adalah menu yang paling mencuri hati saya. Ternyata sukun goreng dicocol sambal membawa sensasi goyang lidah yang benar-benar menyenangkan. Saya sampai ketagihan dan terus tambah lagi.

Kopi Raroba, Teh Jahe Halua, Pulut siram dan Pulut Unti. Nyam 🙂
Kami sempat bertemu dan berbincang sebentar dengan pemilik Café, Tante June. Saya menanyakan arti jargon Café Sibu-Sibu yaitu “Hail Buang Lansyik” dan ternyata artinya rumah kecil tempat melepas lelah (hail = rumah dan buang lansyik = lepas lelah). Semua menu diakui Tante June dibuat sendiri di dapur Sibu-Sibu. Begitu pula dengan sukun goreng sambal yang memikat lidah saya tadi. “Sambalnya memang khas dapur Sibu-Sibu”, ujar Tante June.

Yang tak kalah menarik juga, waitress di Sibu-Sibu mengenakan Kabaya merah yang merupakan pakaian tradisional Maluku. Usi (kakak) Ani dan Usi Ona tampak sangat cantik melayani tamu Sibu-Sibu dengan Kabaya.

Usi Ani & Usi Ona 🙂
Belum kenyang menyantap Pulut dan Sukun, kami pergi ke salah satu tempat terkenal di Ambon yaitu Nasi Kelapa Tugu Batu Merah untuk makan Nasi Kelapa Ikan Bakar Colo-Colo. Warungnya sederhana dan terletak di tikungan jalan. Mama Nur, sang empunya sudah berjualan Nasi Kelapa dari tahun 2002. Beliau mengakui kalau warungnya sering sekali diliput oleh wartawan atau stasiun TV. Wih, berarti rasa masakan Mama Nur tidak main-main ya.

Nasi Kelapa & Ikan Bakar Colo-Colo
Tak sampai beberapa menit setelah kami duduk di kursi, dua piring Nasi Kelapa dan Ikan Bakar Colo-Colo sudah terhidang di depan kami. Nasinya mengepul panas namun tak menyurutkan niat kami untuk segera menyantapnya. Dari suapan pertama, saya tak berhenti menyuapkan nasi kelapa dan ikan ke dalam mulut. Tak heran warung Mama Nur ini banyak diliput karena rasanya memang mantap. Sepiring nasi kelapa dan ikan bakar colo-colo dihargai Rp 25.000 saja.

Selain Ikan Bakar Colo-colo, ada menu lain untuk disantap bersama Nasi Kelapa. Ada telur asin, telur sambal balado, udang goreng, teri medan pepes goreng, cakalang bada teri, cakalang bumbu bali dan ikan bakar kawalinya. Tinggal pilih mana suka, sesuai selera.

Bersama Mama Nur yang senyumnya malu-malu. Hahaha 😀

Perut kenyang, kami pulang dengan hati senang. Harus bersiap-siap karena besok kami harus menempuh perjalanan jauh ke Ora Beach.

Ceritanya berlanjut di sini ya 🙂
About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts