Gapura Surya Nusantara, Terminal Penumpang Megah Nan Mewah

23
Surabaya North Quay (Photo by : Hafidz Novalsyah)
Masih jelas terekam di ingatan saya ketika menunggu kapal PELNI dari Ambon ke Banda Neira di pelabuhan Ambon. Dengan menggendong ransel besar di punggung dan ransel kecil di bagian depan, peluh tak berhenti mengalir di dahi karena berdesak-desakan dengan penumpang kapal lain yang tumpah ruah.

Jangankan untuk berselonjor, tempat untuk duduk pun tak ada. Saya edarkan pandangan di sekeliling terminal penumpang pelabuhan Ambon. Semua orang juga tampak kelelahan. Banyak penumpang yang membawa anak kecil, kewalahan meladeni anaknya yang menjerit-jerit  karena sesak dan akhirnya diajak jalan atau beli jajan.

Baju saya basah karena keringat yang terus mengucur karena padat dan sesaknya manusia. Tapi itu belum seberapa. Masuk ke kapal juga jadi ujian berat dan membuat saya hampir menangis.

Sakit lhosoalnya mau naik didesak, didorong-dorong atau diinjak kakinya. Dan itu yang saya rasakan ketika menaiki KM Tidar. Bersama ribuan orang lainnya, saya naik tangga dengan kondisi seperti itu, tidak ada yang mau antri rapi dan akhirnya kepala saya beberapa kali terbentur barang-barang besar yang diangkat para porter / penumpang di atas kepala mereka.

Saya berpikir kejadian tadi akan jadi pengalaman yang menyenangkan untuk dikenang, namun sampai kapan kondisi pelabuhan di Indonesia seperti ini?  Saya senang naik kapal laut dan ingin juga mengajak teman-teman saya naik kapal. Tapi kondisi seperti itu kalau saya ceritakan pasti bikin beberapa teman ogah. Mending naik pesawat aja, pasti pikir mereka.

Waktu itu saya berangan-angan bahwa Indonesia akan memiliki pelabuhan dengan fasilitas yang baik, mengutamakan kenyamanan dan keselamatan penumpang. Biar kapal laut ke depannya tidak dipandang lagi menjadi transportasi kelas menengah ke bawah.

Daaaaann angan-angan saya menjadi kenyataan.

Saya melihat langsung terminal penumpang di pelabuhan Tanjung Perak, yang diberi nama Gapura Surya Nusantara, sesuai dengan apa yang dulu muncul di benak saya.

Bangunan terminal penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN) ini modern dengan interior yang ciamik. Begitu masuk ke dalam gedung, udara sejuk dari pendingin ruangan membuat saya nyaman setelah menghadapi teriknya matahari Surabaya.

Interior Gapura Surya Nusantara ini ciamik ya. (Photo by : Wira Nurmansyah )
Terminal penumpang ini tak ada ubahnya seperti bandara-bandara modern. Ah, Terminal 1 Soekarno Hatta saja masih kalah sama GSN.

Bagian depan pintu masuk terminal GSN
Seluruh penumpang yang akan naik kapal harus melewati mesin X-ray dulu seperti di bandara lalu menuju counter check-in kapal sesuai dengan tujuan masing-masing. Wah, canggih bener.

Lewatin X-Ray dulu ya… Lihat langit-langitnya. Ciamik ya!

Check in counter nya aktif jika ada kapal yang akan diberangkatkan.
Selepas check-in, penumpang bisa bersantai jika masih ada jeda waktu hingga keberangkatan kapal. Dengan eskalator, penumpang bisa pergi ke lantai 3 terminal dimana terdapat food court yang menjajakan ragam makanan yang lezat dan pastinya bersih. Sebut saja beberapa kuliner khas dari Surabaya seperti Lontong Balap Pak Gendut, Bebek Harisa, Rujak Cingur Bu Nur, hingga sajian seperti soto, bakso, dim sum, dan jamu bisa ditemukan di sini. Ada photo booth juga buat yang seneng narsis seru-seruan.

Food Court di GSN

Beragam kuliner khas Surabaya bisa didapatkan di sini 😉

Look at that happy face! Mau naik kapal kemana nih Om? 😉
Masuk ke dalam kapal juga tidak perlu berdesak-desakan karena penumpang akan masuk ke kapal memakai garbarata, seperti layaknya masuk ke pesawat. Dan tentunya malu dong ya kalau masuk pakai garbarata tapi nggak mau ngantri atau dorong-dorongin orang. Semoga dengan adanya garbarata ini, penumpang bisa jadi lebih tertib.

Ruang tunggu di lantai 1

Ruang tunggu di lantai 2
Tapi yang jadi favorit saya adalah roof-top area di Gapura Surya Nusantara. Wow! Pelabuhan mana coba di Indonesia yang punya roof-top seperti GSN? Dan benar saja tempat yang dikenal dengan nama ‘Surabaya NorthQuay’ ini jadi tempat favorit seluruh pengunjung terminal.


Santai sambil menikmati kerlap-kerlip kapal di kejauhan…

Om Boim dan Kak Firsta lagi asyik selonjoran di bean bag.
Lantai rooftop-nya dilapisi dengan rumput hijau sintesis jadi enak dan nyaman untuk anak kecil berlari kesana-kemari. Ya pastinya tetap dalam pengawasan orang tua-nya ya. Lalu ada kursi santai dan meja berpayung untuk santai-santai minum teh atau kopi dengan pemandangan laut. Ada juga bean bag warna-warni untuk yang mau santai selonjoran.

Saking asyiknya, tempat ini jadi tempat favorit nongkrong yang baru bagi arek-arek Suroboyo. Nggak harus jadi penumpang kapal juga bisa masuk kok. Sekedar untuk santai sama keluarga atau teman-teman. Tiap malam minggu juga ada pertunjukan live music lho.

Kami juga nggak mau ketinggalan dong. Kita asyik bersantai-santai dan sudah sah menjadi anak gaul ‘NorthQuay’, *hehehe*



Gapura Surya Nusantara ini dibangun oleh PELINDO IIIdi atas lahan seluas 1,6 hektare dan mampu menampung hingga 4000 penumpang. Tidak hanya kapal PELNI saja yang sandar tetapi beberapa kapal pesiar dari berbagai Negara juga sering bersandar. Salah satu contohnya adalah Cruise MS Rotterdam yang memiliki panjang kapal 230 meter, bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, turun di terminal GSN pada Februari silam.


Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman blogger diajak untuk melihat-lihat kawasan kerja Pelindo dan salah satunya adalah Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara ini. Cerita lainnya juga bisa dibaca di sini.

Gapura Surya Nusantara yang lebih dikenal dengan nama Surabaya North Quay ini sudah sepatutnya diterapkan di seluruh pelabuhan Indonesia. Ya mungkin sekarang terdengarnya muluk-muluk tapi bisa saja terealisasikan beberapa puluh tahun lagi. Pembangunan GSN menegaskan bahwa Indonesia siap menghadapi tantangan-tantangan di dunia maritim untuk pengembangan dan peningkatan kualitas pelayanan.


Kadang ada performance dari pemusik grup keroncong lho 😉
Saya pribadi mengharapkan bahwa
nantinya seluruh penumpang bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahan Terminal GSN yang masih seumur jagung ini. Jangan sampai dirusak dan kotor oleh tangan-tangan jahil. 
Dijaga bersama ya 😉

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts