Pesona Ende – Pesona Danau Tiga Warna, Kelimutu

25

Malam itu Moni dingin sekali. Dengan menggigil, kami beringsut menuju mobil dari kamar. Kami harus bergegas agar tidak ketinggalan momen matahari terbit di Danau Kelimutu. Di sela rasa dingin yang menggigit, rasa senang akan mendaki Kelimutu lebih kuat  sehingga lama-kelamaan dinginnya tak lagi terasa.

Danau Kelimutu yang dulunya kita kenal ada di lembaran uang lima ribuan, terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 kilometer dari Kota Maumere. Moni adalah nama daerah yang paling dekat dengan Kelimutu. Jarak Moni dan Kelimutu hanya 15 kilometer.

Butuh waktu berkendara sekitar 30 menit dari Moni untuk menuju pintu masuk pendakian Taman Nasional Kelimutu. Naik mobil sih enak ya, masih hangat di dalamnya. Coba kalau naik motor. Wihiiii, pasti merinding disko.

Kalau sudah tahu begitu, kamu pasti mengerti dong pakaian seperti apa yang harus kamu kenakan untuk mendakinya? Wajib pakai celana panjang, baju hangat, jaket windbreaker dan lebih baik lagi kalau mengenakan kaos kaki tebal, sepatu trekking dan sarung tangan.
Pintu masuk Taman Nasional Kelimutu
Sebelum masuk, kita harus membayar biaya sebesar Rp 5000. Coba bandingkan dengan wisatawan asing yang harus membayar sebesar Rp 150.000, tiga puluh kali lipatnya. Wow. Harga yang cukup mahal menurut saya untuk atraksi alam seperti Danau Kelimutu. Bagaimana menurut kalian?

Biaya masuk Taman Nasional Kelimutu.
Oh iya, Danau Kelimutu ini masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu yang merupakan Taman Nasional yang paling kecil diantara enam Taman Nasional di Bali dan Nusa Tenggara.

Ketika kami akan mendaki, tiada pemandu yang tersedia untuk menemani. Karena kami sudah menyiapkan peralatan kami sendiri seperti headlamp, kami berangkat sendiri saja. Jalurnya sudah terlihat jelas kok.

Jalur ke puncaknya sekitar 2 kilometer dari parkiran Taman Nasional dan butuh waktu 30 menit berjalan kaki untuk menuju ke sana. Sepanjang jalan kami bergurau dan tahu-tahu tidak terasa sampai di perhentian terakhir. Tempat dimana kami akan menunggu sang surya bangkit dari peraduannya.

Bertemu pasangan yang lagi prewedding di Danau Kelimutu. Mereka bahkan memakai pakaian adat NTT
Sambil menunggu, kita bisa menyesap kopi dan teh hangat. Banyak yang jualan kok. Tapi sebaiknya kita sudah mempersiapkan minimal satu botol air mineral 600 ml untuk di perjalanan.

Kami diselimuti harap-harap cemas, apakah pagi itu kami bisa melihat matahari terbit karena langit sedikit mendung. Semuanya sibuk dengan kamera masing-masing, siap untuk mengabadikan momen matahari terbitnya.

Oh iya, masyarakat lokal di Kelimutu hampir tidak ada yang memakai jaket padahal suhu begitu rendah. Mereka hanya mengenakan sarung “Lawo”, sarung tenun khas Ende. Karena penasaran, kami juga ingin memakai sarung ini. Eh ternyata benar, sarung “Lawo” lebih hangat dari jaket yang kami pakai. Ukuran sarungnya lebih panjang dari sarung biasa karena bisa menutupi hingga kepala. Serba guna karena bisa menjadi jaket dan kantong tidur (sleeping bag) sekaligus. Hehehe…

Ngomong-ngomong, kalian sudah tahu cerita rakyat terbentuknya Danau Kelimutu belum? Kalau belum, ceritanya bisa kalian baca di sini ya.

Di Danau Kelimutu ini terdapat tiga kawah yang warnanya bisa berubah sewaktu-waktu
. Ketika berkunjung kesana, warna yang saya lihat adalah putih, hijau toska dan hijau kehitaman. Jika kita datang beberapa bulan kemudian, warna danaunya bisa saja sudah berubah menjadi biru, merah atau hitam.

Ada pula yang bercerita bahwa jika Danau Kelimutu berubah warna menjadi warna merah, berarti Negara kita, Indonesia sedang dalam masalah. Namun jika warnanya biru, artinya Negara kita aman-aman saja.

Secara ilmiah, penjelasan tentang mengapa Danau Kelimutu ini bisa berubah-ubah warnanya adalah pengaruh batuan, kandungan mineral, lumut di dalam kawah dan cahaya matahari. Para ilmuwan percaya bahwa Danau ini terbentuk karena letusan gunung vulkanik pada zaman purba. Danau Kelimutu menarik perhatian banyak ilmuwan dan ahli geologi dari seluruh dunia yang mencari tahu bagaimana letusan dari gunung yang sama bisa menghasilkan tiga danau dengan warna yang berbeda.

Danau yang paling pertama kita jumpai di jalur adalah Tiwu Ata Polo, kawah yang diyakini sebagai tempat roh-roh jahat bersemayam. Yang kedua adalah Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, kawah yang diyakini sebagai tempat roh muda-mudi bersemayam. Yang terakhir adalah Tiwu Ata Mbupu, kawah yang diyakini sebagai tempat roh leluhur bersemayam.

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai

Tiwu Ata Polo

Tiwu Ata Mbupu
Orang Ende Lio memang mempercayai Danau Kelimutu sebagai tempat peristhirahatan orang-orang yang sudah pergi. Setiap tahunnya, mereka mengadakan ritual adat yang dikenal dengan nama Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata. Ritual ini dimaksudkan untuk mengucap syukur untuk seluruh yang sudah dilewati selama satu tahun kemarin dan memohon berkat untuk tahun yang akan datang.

Jika kita berjalan mengarah ke Puncak, cobalah lihat ke bagian kiri. Kalian akan mendapatkan satu lahan terbuka dimana ada susunan batu di tengah-tengahnya. Disanalah ritual Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata dilangsungkan. Kalian pernah dengar Festival Kelimutu? Festival Kelimutu biasanya diadakan pada bulan Agustus setiap tahunnya. Jika kalian ingin melihat ritual tersebut, silahkan datang ke festivalnya ya.

Tempat “memberi makan” leluhur
Kopi dan teh di gelas kami sudah dingin namun sang surya tak kunjung menampakkan diri. Kulirik jam di tangan, sudah menunjukkan pukul enam lewat. Yah, nggak dapat sunrise deh, pikirku dalam hati.

Namun, sekonyong-konyong cahaya berwarna keemasan menyinari wajah. Ah, mataharinya muncul juga. Rasa dingin yang menempel di kulit sirna tergantikan dengan rasa hangat yang menyapa.

Selamat pagi Kelimutu!





Waktu yang terbaik untuk mengunjungi Kelimutu adalah di pagi hari. Usahakan berangkat jam 03.30 agar bisa tiba di puncak dan melihat matahari terbit. Biasanya, sekitar pukul 07.00 – 09.00, kabut akan turun dan kita akan kesulitan melihat Danau Kelimutu dengan jelas. Namun, di atas jam tersebut biasanya kabut sudah hilang.

Ah ya! Di Danau Kelimutu juga masih terdapat banyak kera yang berkeliaran bebas. Mereka tidak akan mengganggu kita jika kita tidak mengganggu mereka.



Selain menikmati kopi dan teh hangat, teman-teman juga bisa mencoba penganan ringan yang dijajakan oleh masyarakat lokal di sekitar tugu pandang. Salah satu yang saya temui adalah Bang John dan istrinya. Mereka sudah berdagang selama 9 tahun, setiap hari (jika tidak hujan). Jika kalian bertemu dengan mereka, sampaikan salamku pada mereka ya.



Sampaikan juga salam rinduku pada “Tiwu Telu Mera Meta Bara, Sare Iwa Sama”, satu-satunya danau yang memiliki tiga warna, Danau Kelimutu.


Tips dan Cara Menuju  Danau Kelimutu :
1. Pilihan pertama adalah menginap di Ende lalu berkendara ke Moni sekitar 3 jam. Jika ingin mengejar matahari terbit, berarti kalian harus berangkat dari Ende sekitar jam 1 pagi.

2. Pilihan kedua adalah menginap di Moni. Terdapat banyak homestay, eco-lodge dan guest house dengan harga mulai Rp 150.000,-. Dari Moni kalian bisa menyewa motor atau mobil untuk naik ke Kelimutu. Tentu saja pilihan ini lebih enak dibandingkan pilihan yang pertama. Lumayan kan menghemat waktu di jalan.

3. Untuk menuju Moni dari Ende, kalian bisa naik Oto Kol, transportasi umum yang bentuknya truk namun diberi kursi. Jika kalian ingin menghemat waktu, ya silahkan menyewa kendaraan pribadi.

4. Jangan lupa memakai pakaian yang hangat untuk mendaki. Pakailah sepatu yang nyaman Bawa persediaan air mineral dan headlamp atau senter.

5. Berlaku sopan selama pendakian dan tidak mengambil apapun selain foto, meninggalkan apapun selain jejak.
Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger akan mengeksplor beberapa tempat wisata di Ende. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaEnde

About the author

An adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on.

Related Posts