Mencari Senja yang Sembunyi di Pantai Gerupuk Lombok Tengah

Mencari Senja Tersembunyi

Semua orang cinta dengan langit senja. Betul?

Saya juga. Walaupun besar di pesisir yang bisa melihat matahari terbenam setiap hari di pantai dekat sekolah atau rumah, saya tak pernah bosan untuk duduk memandang laut, menikmati detik-detik beristirahatnya sang Surya.

Karena itulah, saya merasa bahwa setiap senja wajib diabadikan. Sebab tak ada pemandangan senja yang serupa di tiap-tiap langit.

Sewaktu jalan-jalan ke Lombok, saya membuka peta besar Lombok dan melihat posisi Kuta bukanlah titik yang bisa melihat matahari senja bulat dengan mudah.

Kami bertanya pada teman kami β€” Bang Bobo β€” dimana kami bisa mendapatkan senja yang cantik, tetapi dia tidak tahu jawabannya.

Hari pertama, saya dan travelmate saya, Ju sampai naik bukit untuk mendapatkan senja tetapi hasilnya nihil. Titik kami salah.

Cuaca saat itu juga mendung sehingga blue hour pun tidak ada. Kami saling menghibur diri dan berdoa agar esok hari kami bisa lebih beruntung untuk melihat senja di Lombok.

Sore hari kedua, kami pergi ke arah Timur Kuta, Lombok.

Di sini, kita akan menemukan Pantai Serenting, Pantai Tanjung Aan, Pantai Batu Payung, Pantai Seger dan Pantai Gerupuk. Semakin ke Timur, pantai-pantainya banyak yang jadi spot favorit surfer / peselancar.

Awalnya kami ingin menunggu senja di Pantai Tanjung Aan. Tetapi setelah dipikir ulang, sepertinya tidak bisa dapat senja cantik karena sudut mataharinya tidak jatuh di Tanjung Aan.

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Timur. Lucu ya, mengejar matahari senja kok ke arah matahari terbit, bukan tenggelam?

Selama di atas motor, saya menikmati jalanan yang kami lewati. Ada pesona tersendiri yang keluar dari pohon-pohon kering yang berjajar di tepi jalan.

Kalau di cerita #TripLombok sebelumnya, saya bercerita tentang cantiknya pemandangan bukit-bukit coklat di tepi jalan. Kali ini saya jatuh cinta lagi dengan jalan ala musim gugur di garis tepi pantai Lombok.

Musim gugur ala Lombok
Musim gugur ala Lombok

Menuju Pantai Gerupuk

Di plang yang kami lewati sih tulisannya menuju Pantai Gerupuk (awalnya aku dengar itu Pantai Kerupuk).

Tak lama sejak kami melewati plang itu, kami mendapati satu gapura besar yang bertuliskan “Selamat Datang di (Zone 1) Kawasan Minapolitan, Kabupaten Lombok Tengah.

Selamat datang di Kampung Gerupuk
Selamat datang di Kampung Gerupuk

Apa itu Minapolitan?

Setelah kucari di Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ada kata “Minapolitan”. Setelah bertanya dengan Mbah Google, saya menemukan artikel Kompasiana yang menuliskan arti Minapolitan sebagai daerah bisnis berbasis perikanan.

Katanya “Mina” diambil dari Bahasa Jawa “Mino” yang berarti ikan. Ohhhh. Kampung Nelayan Modern Terpadu begitu ya?

Kami berhenti sebentar di depan halaman satu bangunan kecil yang penuh dengan jala-jala ikan yang teronggok di sudut. Ada papan bertuliskan “Tempat Pelelangan Ikan” tetapi tidak ada satu orang pun terlihat di sekitar tempat itu.

Setelah berjalan ke pantai, kami melihat banyak kapal nelayan yang sedang parkir. Kapalnya lucu, berwarna-warni. Ciamik!

Tempat Pelelangan Ikan Gerupuk
Pantai di belakang Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Gerupuk

Sayangnya, langit sore itu mendung kelabu sehingga foto yang dihasilkan tidak maksimal. Tapi tetap sedap dipandang mata kan? Uhuy!

Kampung ini namanya Kampung Grupuk. Banyak homestay bertebaran di kiri dan kanan jalan.

Sepertinya Pantai ini populer di kalangan surfer mancanegara ya. Mereka tak henti-hentinya berseliweran dengan sepeda motor dan papan selancar yang menggantung di samping motornya.

Kulit mereka merah, raut muka mereka bahagia. Ya iyalah ya, setiap hari bisa main di laut, cem mana enggak bahagia?

Lagi asyik memotret, ada seorang Bapak Nelayan yang hendak berangkat melaut. Kami hampiri beliau dan berbincang sedikit. Namanya Pak Syamsul. Beliau adalah Petani Lobster.

“Di Grupuk ini terkenal sebagai penghasil Lobster, Mbak. Kalau musim panen melimpah, lobsternya dijual Rp 300.000 per kilonya. Kalau musim panen biasa, lobsternya dijual Rp 350.000 per kilo” ujar Pak Syamsul.

Pak Syamsul dengan bangga bercerita bahwa Lobster dari Gerupuk adalah lobster segar yang terbaik. Lobster dari Gerupuk juga sering diekspor ke luar negeri.

Bincang-bincang sore itu tidak berlangsung lama. Pak Syamsul harus segera berangkat melaut. Tadinya saya mau minta ikut ke Tambak Lobster, tapi waktunya tidak memungkinkan.

Tujuan awalnya kan mencari senja, bukan melihat lobster. Lagipula kalau hari sudah sore begini, lobsternya enggak kelihatan. Ah, ya sudahlah, lain kali waktu saja.

Pak Syamsul bersiap melaut
Pak Syamsul sudah bersiap untuk melaut.

Setelah Pak Syamsul pergi melaut, dua bocah kecil datang menghampiri. Mereka menendang bola plastik biru ke arah saya dan meminta saya menendangnya balik. Permainan semakin seru.

Saya melepas sendal jepit dan ikut bermain bola bersama mereka. Berat juga ya main bola di pasir. Capek larinya. Hahaha…

Habis main bola, mereka ajak saya salto-salto di pasir. Berhubung saya tidak bisa salto ya saya nonton saja sambil tertawa-tawa. Senang bisa bermain bola bersama kalian, adik-adik πŸ˜€

Bocah Kecil Deni
Bocah kecil yang mengajak saya bermain bola. Namanya Deni.
Deni dan Rodi Salto
“Kakak, ayo salto begini” teriak dua bocah, Deni & Rodi

Kembali pada tujuan semula, berburu senja.

Saya bertanya kepada seorang gadis muda yang memakai sarung, kemana kami harus pergi untuk melihat matahari senja yang cantik.

“Mbak naik saja ke atas bukit itu kalau mau lihat matahari” ucapnya sambil menunjuk ke satu bukit.

“Naik ke atas bukit itu bisa pakai motor enggak?” tanyaku.

“Oh bisa, Mbak. Tapi harus hati-hati karena jalanannya berpasir” lanjutnya.

“Oke, Terima kasih banyak Mbak” ucapku lalu berpamitan.

Benar saja. Kira-kira 500 meter, kami melihat ada tanjakan curam yang berpasir. Saya bertanya pada Ju apakah masih tetap mau melintasi tanjakan itu.

“Bisa kok. Asalkan kamu turun dan jalan kaki ke atas ya” kata Ju.

Saya pun turun dari motor dan mempersilahkan Ju duluan jalan sambil saya perhatikan was-was. Jalur pasir memang tantangan berat untuk pengendara motor. Licin dan rawan jatuh.

Syukurlah Ju bisa melewati tanjakan dengan hati-hati dan selamat.

Tetapi di tanjakan kedua, kami tertawa pasrah karena harus berhenti dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Tanjakan pasir kedua sudah pasti tidak bisa dilewati pakai motor matic yang kami sewa. Kalau sejenis motor trail bisa kali ya.

Saya jalan duluan meninggalkan Ju yang lagi jeprat-jepret dengan kameranya. Dengan hati-hati saya mendaki di pasir. Sandal jepit yang saya pakai dilepas dan ditenteng karena lebih aman mendaki pasir dengan bertelanjang kaki.

Tiba di atas bukit, saya melihat laut lepas di kejauhan. Saya merasa tinggi sekali ketika melihat ke bawah. Tetapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira karena berhasil melihat matahari senja.

Menunggu Senja

Senja Ketika Mendung

Walau cuaca sedikit mendung, tapi senja sore di pantai Gerupuk itu tetap indah.

Semburat warna jeruk (orange) menghiasi langit dengan gulungan awan kelabu. Senja itu juga terpancar lewat kilauan di atas air laut. Damai sekali.

Saya cukup lama duduk, memandangi matahari senja dan hampir lupa untuk memotret pemandangan yang cantik ini. Susah kali buat melihat senja di sini. Tapi akhirnya kutemukan juga. πŸ˜€

Langit sudah bersolek

Terima kasih langit di pantai Gerupuk ini sudah bersolek sebentar dan bersedia jadi modelku. Hehehehe. Sampai jumpa lagi.

Senja di Lombok

Cerita Trip Lombok #7 ini merupakan salah satu cerita dari rangkaian backpacking ke Lombok. Seluruh informasi yang tercantum adalah saat perjalanan medio tahun 2013 yang lalu. Jadi, terdapat beberapa informasi harga maupun lainnya yang sudah tidak relevan lagi saat ini.

Satya Winnie - Travel Blogger

Satya Winnie, an adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving, and so on. But, her favourite things are explore culture, capture moments and share the stories.

So, welcome and please enjoy her travel journal and let’s become a responsible traveler.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top